PENULIS mengucapkan Selamat Datang serta Salam Sejahtera bagi pembaca sekalian yang budiman. Mari kita temukan solusi atas berbagai problem dalam kehidupan ini menuju hidup yang sukses, mulia, sehat, berkecukupan namun terhormat. Blog ini berisi pengalaman, pemikiran, perenungan / kontemplasi penulis sebagai hasil dari interaksi dengan para sahabat, para guru, para klien maupun hasil dari 'pembacaan' alam sebagai wujud 'ayat-ayatNya'. Semoga blog ini bermanfaat

TENTANG PENULIS

Foto saya
Gresik, Jawa Timur, Indonesia
Penulis adalah Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di rt 13/ rw o7,Sawo,Dukun,Gresik-61155. Data Diri Penulis secara lengkap bisa dilihat di Tentang Kami. Kontak penulis di no.hp: +6285850960090 atau via email ke: powerman.tiknan@gmail.com

Sabtu, Februari 13, 2010

JIWA YANG TENANG

"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rela dan diridloiNya" (al ayat).

JIWA YANG TENANG, siapa dia ?
Tentu jawabanya adalah manusia (dan juga jin sebagai makhluk yang juga dibebankan agama pada dirinya). Manusia yang bagaimana ? Yang ahli ibadah ? Yang 'alim ? Bagaimana dengan kita-kita yang ukuran ibadahnya sangat jauh sekali ini ? Bagaimana juga dengan kita-kita yang tidak 'alim atau pandai soal agama ini ?

Jangan terlalu risau. Allah tidak membebankan sesuatu yang di luar kemampuan kita. Seberapa kita mampu asal ikhlas, itulah yang dinilai olehNya. Kembali ke masalah jiwa yang tenang, siapa dia ? Bisakah kita termasuk di dalamnya ?

Sebenarnya jawabannya adalah ada di hati kita masing-masing. Jika kita sudah mampu mengendalikan diri -yaitu nafsu dengan segala keinginan kita- bukan kita yang dikendalikan nafsu, maka ketika itulah kita sudah masuk ke wilayah jiwa yang tenang.

MAKNA KEMBALI KEPADA TUHAN
Kembali mempunyai beberapa makna yaitu :
-mati, namun bukan ini yang hendak kita bicarakan.
-menghubungkan diri atau mengembalikan diri kepada Allah. Ini poin yang penting yang harus kita hayati.

Ternyata dari ayat diatas, ketika kita mengembalikan diri kita seutuhnya kepadaNya maka bukanlah harta, ilmu maupun amalan yang diminta olehNya. Hanya rasa ikhlas, rela atau ridlo yang dipersyaratkanNya. Janganlah kita sampai menyombongkan diri dihadapanNya dengan merasa kita sudah banyak beramal dan berilmu.

RIDLO ATAU IKHLAS BERTUHANKAN ALLAH
Mari kita datang kepadaNya baik ketika sholat, berdoa, zikir hatta ketika kita tidur maupun ketika kita beraktifitas apapun dengan cara kita 'kembalikan' diri kita seutuhnya kepadaNya. Kita sadari bahwa 'rasa melihat' ini milikNya, kita kembalikan kepadaNya dengan mensukurinya. Begitu juga 'rasa-rasa' yang lainnya, rasa mendengar, mencium, rasa tau dan lain-lain. Aapun itu jangan samai kita akui sebagai milik kita sendiri.

Jika semua sudah kita kembalikan kepada Allah termasuk hidup kita maka kita tinggal mohon untuk dituntun olehNya dalam kehidupan ini. Biarkan kasihNya menuntun kehidupan kita. Biar kita pasrah sepasrah-pasrahnya. Sehingga apapun yang kita lakukan hanya ikhlas demi ridloNya.

Wassalam,

0 comments:

RELATED POST

TERIMAKASIH

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kiranya Allah memberkati Anda