PENULIS mengucapkan Selamat Datang serta Salam Sejahtera bagi pembaca sekalian yang budiman. Mari kita temukan solusi atas berbagai problem dalam kehidupan ini menuju hidup yang sukses, mulia, sehat, berkecukupan namun terhormat. Blog ini berisi pengalaman, pemikiran, perenungan / kontemplasi penulis sebagai hasil dari interaksi dengan para sahabat, para guru, para klien maupun hasil dari 'pembacaan' alam sebagai wujud 'ayat-ayatNya'. Semoga blog ini bermanfaat

TENTANG PENULIS

Foto saya
Gresik, Jawa Timur, Indonesia
Penulis adalah Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di rt 13/ rw o7,Sawo,Dukun,Gresik-61155. Data Diri Penulis secara lengkap bisa dilihat di Tentang Kami. Kontak penulis di no.hp: +6285850960090 atau via email ke: powerman.tiknan@gmail.com

Kamis, Juni 10, 2010

IKHLAS dalam bersedekah : bagaikan Buang Air Besar

Untuk mencapai ikhlas khususnya dalam bersedekah dan juga berbagai amaliah yang mudah menimbulkan rasa bangga maka Baginda Nabi Muhammad mengajarkan bahwa jika tangan kanan kita memberi maka tangan kiri kita jangan sampai tahu. Bukankah itu suatu pekerjaan yang sulit ? Ya betul karena perilaku ikhlas itu perilaku hati. Bahkan ikhlas itu adalah rahasia antara kita denmgan Tuhan. Lain orang tidak akan tahu.

Dalam hal ini maka agak lebih mudah bagi kita membayangkan jika kita bersedekah maka bagaikan orang buang air besar (BAB) saja. Coba mari kita perbandingkan. Adakah diantara kita yang menyesal setelah BAb ? Tentu gak bakalan ada. Bahkan terasa lega. Hatta ketika kita habis makan sate atau durianpun kita nggak sayang untuk membuangnya lagi dalam bentuk BAB. Tidak terbersitpun rasa ‘sayang atau eman’ terhadap makanan yang betapapunmahal dan enaknya yang kita makan untuk kita buang melalui BAB.

Perhatikan juga bahwa tidak ada diantara kita yang sudi mengingat-ingat BAB kita. Lepas-pas-pas. Ikhlas se ikhlas-ikhlasnya. Semakin besar BAB kita semakin lega rasanya. Ketika kita BAB pun merasa malu jika dilihat orang. Nggak mungkin kita menampak-nampakkan BAB kita ke orang lain, sekalipun kepada istri sendiri.

Nah, betapa indahnya jika falsafah BAB itu kita jadikan contoh keikhlasan dalm bersedekah maupun beramal. Tidak menunjuk-nunjuk. Bahkan malu jika sedekah atau amaliah kita dilihat dan dibicarakan orang lain. Semakin besar sedekah semakin ‘blong’ rasanya. Tidak mengingat-ingat kebaikan kita. Blong saja. Ikhlas saja. Seperti orang buang air besar. Bagaimana pendapat Anda ?

0 comments:

RELATED POST

TERIMAKASIH

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kiranya Allah memberkati Anda