PENULIS mengucapkan Selamat Datang serta Salam Sejahtera bagi pembaca sekalian yang budiman. Mari kita temukan solusi atas berbagai problem dalam kehidupan ini menuju hidup yang sukses, mulia, sehat, berkecukupan namun terhormat. Blog ini berisi pengalaman, pemikiran, perenungan / kontemplasi penulis sebagai hasil dari interaksi dengan para sahabat, para guru, para klien maupun hasil dari 'pembacaan' alam sebagai wujud 'ayat-ayatNya'. Semoga blog ini bermanfaat

TENTANG PENULIS

Foto saya
Gresik, Jawa Timur, Indonesia
Penulis adalah Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di rt 13/ rw o7,Sawo,Dukun,Gresik-61155. Data Diri Penulis secara lengkap bisa dilihat di Tentang Kami. Kontak penulis di no.hp: +6285850960090 atau via email ke: powerman.tiknan@gmail.com

Selasa, Desember 21, 2010

Naik Haji Berkali-Kali atau Dermawan ?

Bagi umat muslim naik haji merupakan ibadah wajib sekali seumur hidup. Namun itu bagi yang mampu. Yang tidak mampu maka kuwajiban itu belum terkena padanya. Berbahagialah bagi siapapun yang mampu menunaikan ibadah haji. Dengan syarat ikhlas karena Allah.

Ya tentu harus karena Allah semata. Bukan karena ingin dipanggil pak Haji. Bukan karena ingin 'ngelencer' ke Mekah. Bukan pula karena ingin memamerkan harta kekayaannya. Bukan juga karena latah, ikut-ikutan karena para tetangga sudah banyak yang menunaikan ibadah haji.

Sementara ada segelintir manusia yang diberi kelebihan harta oleh Allah. Bagus juga. Tiap tahun menjalankan haji. Tiap tahun umroh. Sayang, tetangga yang lapar tidak dipedulikan. Sayang anak yatim tidak disantuni. Sayang anak cerdas namun miskin tak disekolahkan.

Sayang seribu kali sayang. Karena ada kisah seorang yang kaya mendapat kemuliaan dari Allah. Bukan karena kekayaannya. Tetapi karena kedermawanannya. Bahkan ada kisah tentang seorang ulama yang sangat dermawan. Beliau tidak bisa pergi haji karena bekal berhaji habis untuk membantu orang miskin. Namun diluar dugaan. setelah musim haji usai, banyak tamu datang menyatakan ingin bersilaturahim karena merasa habis menjalankan haji bersama-sama. Padahal ulama tersebut tidak merasa naik haji. Bukankah itu pertanda dari Allah bahwa justru 'hajinya' diterima. Walaupun haji secara badaniah tak terlaksana.

Karena itu menjadi pertanyaan bagi sebagian orang yang tiap tahun pertgi haji dan umroh. Bukankah haji itu waji sekali saja dalam seumur hidupnya. Bukankah lebih bermanfaat (bagi dirinya) dan juga bagi orang lainkalu biaya itu disumbangkan untuk mengentas kemiskinan. Ibaratnya kalu dia pergi haji berkali-kali maka dia hanya ingin masuk sorga sendirian. Tetapi menjadi drmawan itu sama dengan ingin masuk sorga bersama-sama. Bagaimana pendapat Anda ?

0 comments:

RELATED POST

TERIMAKASIH

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kiranya Allah memberkati Anda