PENULIS mengucapkan Selamat Datang serta Salam Sejahtera bagi pembaca sekalian yang budiman. Mari kita temukan solusi atas berbagai problem dalam kehidupan ini menuju hidup yang sukses, mulia, sehat, berkecukupan namun terhormat. Blog ini berisi pengalaman, pemikiran, perenungan / kontemplasi penulis sebagai hasil dari interaksi dengan para sahabat, para guru, para klien maupun hasil dari 'pembacaan' alam sebagai wujud 'ayat-ayatNya'. Semoga blog ini bermanfaat

TENTANG PENULIS

Foto saya
Gresik, Jawa Timur, Indonesia
Penulis adalah Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di rt 13/ rw o7,Sawo,Dukun,Gresik-61155. Data Diri Penulis secara lengkap bisa dilihat di Tentang Kami. Kontak penulis di no.hp: +6285850960090 atau via email ke: powerman.tiknan@gmail.com

Rabu, Januari 16, 2013

Menyaksikan Angin Lesus (Topan)

Pada bulan-bulan begini (awal peralihan kepada musim penghujan) biasanya banyak angin topan (taufan). Orang Jawa bilang angin lesus. Udara yang bergerak kencang sambil memutar-mutar membawa sampah dedaunan, debu dan apa saja yang ringan. Anak-anak kecil bersorak : "Ono lesus -ono lesus" (ada angin topan).

Memang agak aneh jika dipikir. Bahkan anak kecilpun bisa mengatakan ada angin topan, maksudnya ada udara yang bergerak. Padahal yang nampak oleh mata kita adalah sampah dan berbagai benga ringan melayang-layang dan berputar-putar. Kok kita tidak mengatakan ada sampah berputar-putar, ada daun terbang berputar misalnya. Tidak. Kita, bahkan si kecilpun akan langsung mengatakan ada angin. Padahal kita tidak melihat angin. Tapi secara otomatis mengatakan kita menyaksikan angin bergerak. Angin tidak nampak pada penglihatan mata, namun manusia mapu menyaksikan ada angin yang sedang bergerak.

Jika kita dengan mudahnya mampu 'menyaksikan' angin bergerak dengan melihat 'petanda' dari berbagai sampah, debu dan benda-benda lain yang bergerak terbang, mengapa kita tidak mampu 'menyaksikan' lebih dalam lagi : Sang Penggerak angin. Jika kita mampu melihat si Fulan berjalan kenapa kita tidak mapu 'menyaksikan' DIA Sang Penggerak si Fulan. Jika kita melihat si Dadap dan si Waru diam, kenapa kita tidak mampu 'menyaksikan' DIA Yang Maha Menggerakkan dan Mendiamkan.

Pada tataran bergeraknya benda-benda ringan, sampah dan debu tadi kita dengan mudah menjadi penyaksi akan adanya angin / udara yang bergerak walaupun rupa  udara itu sendiri kita tidak pernah melihatnya. Namun terhadap DIA Sang Maha Penggerak kita masih 'tertutup' untuk menjadi 'sang 'penyaksi' terhadap-Nya. Padahal ada wejangan suci : "AKU bagaikan Gudang Yang Tersebunyi, kuciptakan makhluk (manusia) supaya mereka mengenal-KU (menjadi penyaksi akan Daku) ". Dengan demikian kita-kita ini masih termasuk orang yang lalai, tertutup, ter-cover....lalu apa yang kita banggakan ??? Hanya DIA dengan belas kasihan-Nya yang mampu menolong kita, saya dan Anda.

0 comments:

RELATED POST

TERIMAKASIH

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kiranya Allah memberkati Anda