PENULIS mengucapkan Selamat Datang serta Salam Sejahtera bagi pembaca sekalian yang budiman. Mari kita temukan solusi atas berbagai problem dalam kehidupan ini menuju hidup yang sukses, mulia, sehat, berkecukupan namun terhormat. Blog ini berisi pengalaman, pemikiran, perenungan / kontemplasi penulis sebagai hasil dari interaksi dengan para sahabat, para guru, para klien maupun hasil dari 'pembacaan' alam sebagai wujud 'ayat-ayatNya'. Semoga blog ini bermanfaat

TENTANG PENULIS

Foto saya
Gresik, Jawa Timur, Indonesia
Penulis adalah Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di rt 13/ rw o7,Sawo,Dukun,Gresik-61155. Data Diri Penulis secara lengkap bisa dilihat di Tentang Kami. Kontak penulis di no.hp: +6285850960090 atau via email ke: powerman.tiknan@gmail.com

Kamis, Januari 17, 2013

BAYANGAN

Ketika kita bercermin, entah pada kaca cermin atau air bening, kita melihat bayangan kita disana. Jika kita menggerakkan anggota badan kita maka bayangan itupun ikut bergerak. Jika kita diam maka bayangan itupun ikut diam. Bayangan kita ternyata tidak bisa bergerak sendiri, hanya mampu bergerak jika si empunya bayangan bergerak. 


Ketika kita melihat bayangan diri, spontan dalam hati mengatakan “Itu adalah saya”. Padahal bayangan kita bukanlah kita. Bayangan saya bukan saya. Bayangan Anda bukan Anda. Bayangan si Fulan bukan si Fulan. Bayangan tetap bayangan. Dan ‘ada’-nya bayangan itu adalah nisbi dan tergantung pada ’sesuatu’ yang menimbulkan bayangan tersebut. 

Dalam Sirul Asrar diterangkan bahwa manusia adalah cermin (bayangan)-Nya, al mukmin miratul Mukmin. Manusia tidak mampu ber-’ada’ jika tidak diadakan oleh-Nya. Manusia tidak mampu ‘bergerak’ jika tidak digerakkan-Nya (diberi kemampuan untuk hidup dan bergerak). Ya, manusia adalah ‘bayangan’-Nya. 

Sebagai bayangan, tentu manusia bukan DIA. Sebagai ‘bayangan’ tentu tidak sama dengan DIA. Sebagai bayangan tentu tidak ‘menjadi’ satu dengan-Nya. Namun sebagai ‘bayangan’ manusia bisa ‘manunggal’ (menyatu kesaksian) kepada-Nya. Sebagai ‘bayangan’ manusia diberi potensi menyetujui, mematuhi, dan menudukkan diri kepada-Nya. Itu semua semata-mata karena belas kasihan-Nya.

2 comments:

Anonim mengatakan...

kula sampun saged mudheng bab ayang2 punika mtr nuwun

Tiknan Tasmaun mengatakan...

semoga bermanfaat, trims sama-sama

RELATED POST

TERIMAKASIH

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kiranya Allah memberkati Anda