Langsung ke konten utama

ANTARA CAKRA MANGGILINGAN DAN HUKUM KARMA

ANTARA CAKRA MANGGILINGAN DAN HUKUM KARMA
Salah satu ujaran dalam falsafah Jawa dikenal dengan istilah CAKRA MANGGILINGAN. Cakra artinya lingkaran atau sesuatu yang serupa roda. Cakra, dalam khasanah pewayangan dikenal sebagai senjata sakti Sri Kresna sebagai titisan Dewa Wisnu. Sedangkan manggilingan berarti berputar. Maka bahasa ringkasnya jaman sekarang adalah "kehidupan ibarat roda berputar".

Sedangkan KARMA adalah hukum alam yang mempunyai pengertian 'Sebab - akibat'. Ada kawan yang membantah pendapat penulis demikian, kan dalam ajaran Islam tidak ada istilah hukum karma ?. Saya jawab, ya memang tidak kita temukan istilah karma dalam khasanah agama Islam. Tetapi menurut pendapat penulis, secara esensi makna karma itu ada.

Misalnya dalam keterangan bahwa sekecil apapun kebaikan yang kita buat pasti akan ada balasannya (sebagai akibatnya ) dan begitu juga sebaliknya (QS. 99 Al Zalzalah : 7 - 8 ). Hanya saja dalam konsep Islam, jika seseorang bertaubat dan mohon ampunan atas kejahatan yang telah dilakukan maka Allah Maha Pengampun. Ampunan Allah itulah yang menghapus 'akibat' (siksa dalam segala bentuknya sebagai akibat dari sebab perbuatan jahat tersebut).

Karena itu, hai sahabat semua. Pandanglah sesamamu di kiri kananmu. Lihatlah dengan cermat. Suatu hari kau tidak akan menyangka menjadi apa kamu dan menjadi apa mereka. Boleh jadi teman atau tetangga yang selalu kau hina suatu hari menjadi orang penting di lingkunganmu atau bahkan negaramu, atau menjadi orang super kaya, atau menjadi orang 'alim dan lain sebagainya, Atau orang yang kau sanjung-sanjung, suatu hari bisa jadi kehidupannya akan berubah.

Juga hati-hati terhadap perilaku kita terhadap sesama makluk. Apapun alasannya jika kita membuka aib orang, suatu saat cakra manggilingan akan mengenai kita, aib kita yang akan terbuka lebih dahsyat dan menjijikkkan. Jika kita berusaha mencelakakan orang, maka suatu saat kita juga akan lebih celaka lagi. Jika kita mendorong orang baik-baik untuk dipenjara maka suatu saat penjara akan menanti kita. Hanya saja jika semua sudah terlanjur, marilah bertobat supaya azab sebagai bagian dari cakra manggilingan-nya karma tidak ditimpakan kepada kita semata-mata karena ampunan-Nya.

Salam, Tiknan Tasmaun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SELAMAT DATANG

Selamat datang dan selamat menikmati bunga rampai pemikiran penulis di bidang filsafat, analisa budaya dan sejarah, pengetahuan herbal dan beragam opini sosial budaya. Disamping blog ini untuk sharing pengetahuan dan pengalaman, di bawah ini juga penulis tampilkan daftar produk dan layanan dari penulis yang bisa diakses para pembaca yang membutuhkan. DAFTAR PRODUK HERBAL, PARFUM SPIRITUAL DAN EBOOK A. PRODUK KAMI : 1.   Ramuan komplit untuk wanita supaya menjadi 'seperti' gadis lagi, terdiri dari kapsul jamu untuk diminum dan herbal untuk gurah organ intim. Dengan  " HERBAL KEMBALI PERAWAN "  yang merupakan ramuan herbal sari rapet alami inilah yang menjadi solusi permasalahan organ kewanitaan Anda. Sangat cocok bagi gadis yang telah mengalami 'kecelakaan' maupun ibu-ibu yang mengalami organ intim longgar. Herbal ini juga sangat efektif untuk mengobati keputihan. Info lengkap silahkan lihat di  https://perawanrapetwangi.blogspot.com/2010/01/solusi-supaya-menj...

JEJAK SEJARAH DESA SAWO, DUKUN, GRESIK

RINGKASAN MAKALAH TENTANG DESA SAWO 1. TENTANG Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd  Makalah ini mendasarkan pada metodologi yang diperkenalkan oleh Dr. (HC) K.H. Ng. Adus Sunyoto, Mpd. Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd., seorang sejarawan fenomenal sekaligus Ketua Lesbumi PBNU, dikenal memiliki pandangan kritis dan khas terhadap metode pelacakan sumber sejarah di Jawa dan Nusantara. Menurut beliau, metode pelacakan sejarah di Nusantara tidak bisa disamakan begitu saja dengan metode positivisme murni ala Barat yang hanya mengakui arsip tertulis negara. Bagi Agus Sunyoto, sejarah Nusantara harus didekati secara "pribumi" (indigenos)—yaitu dengan menghargai tradisi tutur atau Folklor, toponimi (Toponimi adalah bidang ilmu linguistik yang mempelajari asal-usul, arti, dan sejarah penamaan suatu tempat atau wilayah geografis), peninggalan sosiologis, artifak dan arkeologis.    2. JEJAK SEJARAH :  2.1. MAKAM BERGAMBAR REMBULAN  Di makam Kyai Demak-an pada nisan B...

SANGKAN PARANING DUMADI : Jalan Pulang

Murid : "Guru, mohon Guru jelaskan dari mana aku berasal dan kemana aku akan pergi ?" Guru : "Sesungguhnya yang kamu tanyakan adalah 'sangkan paraning dumadi' (asal dan tujuan hidup). Atau lebih tepatnya jalan pulangmu. Ketahuilah dalam dirimu mengandung dua unsur pokok yaitu jasmanimu dan ruhaniahmu. Masing-masing mempunyai jalan pulang sendiri-sendiri Jasmanimu dicipta dari unsur alam ini. Tanah (bumi), udara (angin), api (panas) dan air. Karena asalnya dari bahan saripati alam maka kelak akan kembali ke alam lagi. Yang tanah kembali kepada tanah, yang angin kembali kepada angin, yang api kembali kepada api dan yang air akan menyatu kembali kepada air. Urut-urutannya adalah demikian. Saripati tanah, udara, panas dan air dihisap oleh tumbuhan kemudian diproses menjadi sari makanan. Tumbuhan tersebut ada yang dimakan hewan dan ada yang dimakan langsung oleh manusia. Hewan yang memakan tumbuhan itupun akhirnya juga dimakan manusia. Ahirnya saripati makanan...

Sejarah Sabdopalon Dan Syeh Subakir : PERJANJIAN LELUHUR JAWA

Ini adalah dialog imajiner antara Sabdopalon dengan Syeh Subakir di atas Gunung Tidar. Gunung Tidar adalah Gunung paku, pakunya Tanah Jawa. Juga gunung patok, patoknya Tanah Jawa. Juga disebut gunung punjer yang berarti punjer atau pusernya Tanah Jawa. Konon kisah ini tertulis dalam lontar Sunan Drajad yang masih disimpan ahli keteurunan Beliau. Hikayat ini pernah dipentaskan sebagai lakon wayang songsong di Desa Drajad, Paciran, Lamongan. Kemudian kami juga mementaskan lakon ini dalam pertunjukan wayang Tengul saat hajatan pernikahan putri kami dengan sedikit penyesuaian. Pada pementasan di rumah, kami namai lakonnya dengan Lakon : Babat Tanah Jawi - Nikahnya Kanjeng Sunan Drajad. Syeh Subakir : Kisanak, siapakah kisanak ini, tolong jelaskan.   Sabdopalon : Aku ini Sabdopalon, pamomong (penggembala)Tanah Jawa sejak jaman dahulu kala. Bahkan sejak jaman kadewatan (para dewa) akulah pamomong para kesatria leluhur. Dulu aku dikenali sebagai Sang Hyang Ismoyo Jati, lalu di...

The Four Elements of the Human Body

 The Four Elements of the Human Body The human body contains the four elements of nature, namely earth, water, fire (heat) and wind (air). All four influence human desires.  The earth element affects the desire for food and drink and the sufficiency of the body's needs.  The air element influences the human spirit to acquire worldly possessions. Even how much wealth is obtained will still feel lacking for humans. Like smoke in the air, it will continue to grow and fill the existing space.  The fire element influences the human will to be angry and defend itself against threats.  The water element influences the human spirit to be patient and accept God's fate. All four elements are important for the body. The influence on the will of the soul is also important so that humans can survive in the world. However, humans must also control these desires so that they remain within reasonable and controllable limits. If you cannot control them, you will fall into the lu...