PENULIS mengucapkan Selamat Datang serta Salam Sejahtera bagi pembaca sekalian yang budiman. Mari kita temukan solusi atas berbagai problem dalam kehidupan ini menuju hidup yang sukses, mulia, sehat, berkecukupan namun terhormat. Blog ini berisi pengalaman, pemikiran, perenungan / kontemplasi penulis sebagai hasil dari interaksi dengan para sahabat, para guru, para klien maupun hasil dari 'pembacaan' alam sebagai wujud 'ayat-ayatNya'. Semoga blog ini bermanfaat

TENTANG PENULIS

Foto saya
Gresik, Jawa Timur, Indonesia
Penulis adalah Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di rt 13/ rw o7,Sawo,Dukun,Gresik-61155. Data Diri Penulis secara lengkap bisa dilihat di Tentang Kami. Kontak penulis di no.hp: +6285850960090 atau via email ke: powerman.tiknan@gmail.com

Minggu, Maret 14, 2010

Akhir Yang Indah - Khusnul Khotimah


"Barang siapa yang akhir kata-katanya (dikala menjelang kematiannya) adalah kalimat lailaha ilallah, tiada Tuhan melainkan Allah, maka dia masuk surga" (al hadis).


Kisah ini saya tulis untuk mengenang almarhum Eyangku yang tersayang. Nama beliau Mbah Soedjono bin Sadam. Beliau meninggal dunia sudah lama sekali, tepatnya pada awal 1994. Ada sesuatu yang menjadi kenangan indah dalam hidupku. Kenangan itu adalah ketika aku menungguinya dikala beliau menghadapi sakaratul maut.

Dengan beratnya beliau menanggung sakaratul maut, namun kusaksikan beliau dengan lancar dan menggetarkan beliau mengucapkan kalimat kesaksian akan Tuhannya dan Nabi panutannya. "La ila ha ila llah, Muhammadarasulullah", itulah kalimat yang meluncur dari mulut beliau tanpa dituntun oleh siapapun. Aku yakin, beliau mampu selancar itu mengucap kalimat thoyibah karena dituntun Rabbnya.

Anehnya, terus terang aku bercerita, bahwa dalam hidupnya sehari-hari beliau bukanlah 'santri'. Beliau tergolong 'abangan'. Baca bismillahpun tidak 'teteh' (fasih). Sholat ? Saya tidak pernah lihat. Namun beliau sering bilang ke aku, "Mbah ini juga sembahyang ". Soal keyakinnnya ? Wow jangan ditanya. Kalau beliau meyakini sesuatu, keyakinannya sangat dalam, yakin sampai haqul yakin. Keyakinannya kepada 'Sing nggawe urip' (Yang Memberi Hidup), keyakinan akan Nur Muhammad, keyakinan akan hukum timbal balik (siksa dan pahala) dan keyakinan akan kekuatan kasih sayang. Keyakinan-keyakinan itu seakan melekat, seolah-olah nampak di depan matanya.

Anehnya lagi sebulan menjelang beliau wafat, beliau seakan-akan tahu akan datangnya kematiannya. Beliau berpesan kepadaku bahwa satu bulan lagi aku disuru kenduri selamatan. Kurang sebelas hari terhadap hari H kematiannya beliau secara terus terang mengatakan bahwa beliau ingin berpuasa karena akan 'pulang'. Kurang empat hari menjelang hari H kematiannya, sekali lagi beliau mengatakan dengan terus terang bahwa empat hari lagi beliau akan 'pulang', jangan ditangisi. Tepat empat hari kemudian beliau betul-betul wafat dengan membawa kalimat thoyibah. Semoga kepergiannya betul-betul dalam keadaan khusnul khotimah.

Dalam hidupnya beliau hanya bekerja sebagai petani sambil memelihara lembu. Disamping itu beliau juga menolong orang. Kalau ada orang sakit beliau sebisa-bisanya menolong mengobati dengan ramu-ramuan dan doa tanpa mengharap imbalan. Apalagi waktu itu tenaga medis di kampung memang tidak ada. Tengah malam butapun jika diperlukan orang maka beliau akan berangkat.

Kuakhiri tulisan ini dengan segenggam doa semoga segala kebaikan 'Panjenenganipun' diterima Allah, segala khilaf dan dosa diampuniNya dan dialam 'sana' senantiasa mendapat 'rejeki' dan rahmatNya, amiin ya Rabbal 'alamin.

0 comments:

RELATED POST

TERIMAKASIH

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kiranya Allah memberkati Anda