PENULIS mengucapkan Selamat Datang serta Salam Sejahtera bagi pembaca sekalian yang budiman. Mari kita temukan solusi atas berbagai problem dalam kehidupan ini menuju hidup yang sukses, mulia, sehat, berkecukupan namun terhormat. Blog ini berisi pengalaman, pemikiran, perenungan / kontemplasi penulis sebagai hasil dari interaksi dengan para sahabat, para guru, para klien maupun hasil dari 'pembacaan' alam sebagai wujud 'ayat-ayatNya'. Semoga blog ini bermanfaat

TENTANG PENULIS

Foto saya
Gresik, Jawa Timur, Indonesia
Penulis adalah Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di rt 13/ rw o7,Sawo,Dukun,Gresik-61155. Data Diri Penulis secara lengkap bisa dilihat di Tentang Kami. Kontak penulis di no.hp: +6285850960090 atau via email ke: powerman.tiknan@gmail.com

Selasa, Desember 14, 2010

Allah - "My Real Big Boss" : Apa Yang Anda Persaksikan Maka Itulah Yang Terjadi

Allah mempunyai Nama-Nama atau Asma Yang Indah. Nama-Nama itu juga  mengandung Nama Keagungan-Nya. Salah satu cara mengenal-Nya yang adalah 'tan kinoyo ngopo'- laisa kamitslihi- tidak ada perbandingan yang serupa dengan-Nya- adalah dengan jalan mengenal Nama-Nya.

Nama-Namanya menggambarkan sifa Zat (Pribadi atau ke-Ada -Nya), sifat-sifat dan perilaku (af'al)-Nya. Nama-Nama-Nya juga tertulis dalam Quran Yang Agung sebagai ayatNya dan juga terhampar di alam semesta, juga sebagai tanda-Nya. Ketika kita memperhatikan burung-burung di udara. Mereka tidak pernah menanam. Tidak pernah memupuk. Namun mereka selalu panen. Mereka disediakan rejekinya oleh-Nya dalam kadar masing-masing. Namun disatu sisi juga kita lihat bahwa mereka terbang 'bergerak' mengambil rejeki yang telah disediakan. Dalam peristiwa itu kita menyaksikan Asma-Nya "AR_ROZAAQ", Allah Tuhan Sang Pemberi Rejeki.

Ar-Rozaq, Nama Allah, yang menjelaskan sifat perilaku (af'al)-Nya yaitu kemurahannya dalam memberi rejeki kepada makhluq-Nya. Dalam peristiwa burung diatas kita menyaksikan 'Ada-Nya' Tuhan melalui perilaku-Nya yang tergambar dalam Nama-Nya : Pemberi Rejeki.

Bagi kaum muslim tentu sholat menjadi amalan atau kelakuan pokok harian yang menjadi washilah perhubungan antara makhluk dengan khaliqnya. Dalam sholat disamping ada unsur pemujaan, permohonan, pengagungan juga ada unsur 'penyaksian'. Penyaksian inilah yang hampir kita lupakan. Kita sering membohongkan kalimat Allah dengan cara kita ucapkan namun hati tidak menyaksikan kebenarannya. 

Ketika kita memuja-Nya dengan berkata 'Alhamdulillah dan seterusnya' diri kita belum menyaksikan-Nya bahwa Dialahyang mempunyai hak segala ucapan terimakasih dan pujianKita masih lali dam persaksian.

Ketika kita berdoa (dalam duduk diantara dua sujud) 'robighfirli' - ampuni aku, kita belum menyaksikan bahwa kita ini pendosa dan sekaligus menjadi saksi bahwa Dia Maha Pengampun. Ketika kita mohon rejeki -'warzuqni' kita tidak juga menjadi saksi bahwa kita ini fakir, lemah tiada daya dan Dia Maha Kaya, Maha Pemuarah dan Maha Pemberi Rejeki.

Dalam doa keseharian juga begitu. Betapa seringnya kita memohon rejeki kepada Allah. Namun kita tak mau menjadi saksi bahwa memang kita ini fakir. Betapapun pangkat Anda dan segudang kekayaan Anda, Anda dan saya itu fakir di hadapan-Nya. Kita itu fakir. Dia Maha Kaya. Mari kita saksikan itu. Kita saksikan bahwa Dia Maha pemurah. Dia Maha Pemberi Rejeki.

Mari menjadi saksi. Saksi dengan mata kepala dan mata hati sendiri. Bukan hanya katanya. Katanya ustad, kiyahi,guru atau siapapun. Saksikan sendiri. Maka apa yang anda saksikan itulah yang terjadi. Saksikan bahwa Allah mengabulkan permintaan kita. Saksikan bahwa Dia mendengar keluh kesah kita. Bahkan saksukan 'kehadiran-Nya' yang sangat dekat, bahkan lebih dekat daripada urat leher kita.

Betapa sering kita memohon sesuatu namun tidak mau (mampu ?) menyaksikan bahwa Dia bersedia memenuhi permohonan kita. Betapa sering kita minya rejeki kepada-Nya namun kita tak mau menjadi saksi bahwa Dialah yang 'sedang' memberi uang pada kita sebagai jawaban doa kita. Bahkan kita tak mau menjadi saksi bahwa sebelum kita mintapun sebenarNya Dia sudah amat berbelas kasihan kepada kita. Dia sudah mengirimkan uang dan rejeki yang lainnya kepada kita tampa kita minta sekalipun. Bahkan kita tak mapu menjadi saksi bahwa 'doa' kita itupun karena 'karya-Nya' semata, karena petunjuk dan kekuatan-Nya sendiri.

Bahkan kita tak mampu menjadi saksi bahwa apa yang tergerak dalam hati, keinginan kita, cita-cita luhur manusia dan sekalipun itu nafsu ...semua adalah anugerah-Nya semata. Kita alpa menyaksikan. Kita alpa sahadat kita. Kita alpa terhadap apa-apa yang seharusnya menjadi persaksian. bahkan apapun, hatta tingkah laku kitapun, sebenarnya menjadi saksi atas 'Ada-Nya'. Kitalah yang alpa terhadap kehadiran-Nya karena kita tak mampu menyaksikan-Nya. Kita tak mampu menyaksikan sifat-Nya dan perilaku-Nya yang semua tergambar dalam Nama atau Asma-Nya.

Lalu apa yang patut kita lakukan ??? Mari memohon kepada Allah supaya kita deberi kemauan dan kemampuan untuk menjadi saksi-Nya, saksi akan nama, sifat dan perbuatan-Nya. Menjadi saksi atas kebenaran ayat-ayat-Nya. Kita mohon untuk diberi kemampuan menjadikan-Nya benar-benar 'Tuhan - Tuan diatas tuan, the real big boss' dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Karena......jika kita menyaksikan (dan menjadi saksi) bahwa Dia 'sekarang sedang' memberi rejeki (AR-Rozaq) maka 'atas kemurahan-Nya' pasti ada uang datang yang dikirim-Nya. Jika mampu menjadi saksi dan menyaksikan bahwa Dia saat ini sedang mengabulkan doa kita (Al- Mujiib) maka atas kemurahan-Nya Dia akan mengabulan apa yang kita minta.

Salam persaksian, Tiknan Tasmaun

0 comments:

RELATED POST

TERIMAKASIH

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kiranya Allah memberkati Anda