PENULIS mengucapkan Selamat Datang serta Salam Sejahtera bagi pembaca sekalian yang budiman. Mari kita temukan solusi atas berbagai problem dalam kehidupan ini menuju hidup yang sukses, mulia, sehat, berkecukupan namun terhormat. Blog ini berisi pengalaman, pemikiran, perenungan / kontemplasi penulis sebagai hasil dari interaksi dengan para sahabat, para guru, para klien maupun hasil dari 'pembacaan' alam sebagai wujud 'ayat-ayatNya'. Semoga blog ini bermanfaat

TENTANG PENULIS

Foto saya
Gresik, Jawa Timur, Indonesia
Penulis adalah Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di rt 13/ rw o7,Sawo,Dukun,Gresik-61155. Data Diri Penulis secara lengkap bisa dilihat di Tentang Kami. Kontak penulis di no.hp: +6285850960090 atau via email ke: powerman.tiknan@gmail.com

Sabtu, Juli 02, 2011

Antara Tawakal dan Ikhtiar

Ada yang mengatakan bahwa antara tawakal dengan putus asa bahkan 'ndablek' alias malas berusaha itu dinding pemisahnya amat tipis. Namun betulkah demikian ? Kemudian dimana letak perhubungannya dengan kewajiban ikhtiar kita ?

Sebenarnya hakekat tawakal ada dalam hati. Sedangkan hakekat ikhtiar atau usaha ada dalam akal pikiran dan gerak dlohir manusia. Lebih dahulu mana ? Bersamaan. Lebih tepatnya lagi adalah lebih dahulu tawakal. Mengapa saya katakan demikian ?

Hal tersebut karena tawakal adalah buah dari keimanan plus keyakinan yang yang seakan - akan sudah mampu 'menyaksikan' atau menjadi saksi atas kebenaran hal yang diyakininya. Dengan kata lain sikap hati yang tawakal adalah iktikad hati untuk mempercayai dan mempercayakan apapun tentang diri kita kepada Allah. Mengapa bisa seseorang demikian yakin untuk mempercayai dan sekaligus mempercayakan dirinya, usahanya dan nasibnya kepada Allah ? Hal tersebut karena orang tersebut sudah diberikan 'pandangan bathin' yang tersingkap mata hatinya sehingga mampu 'melihat' dan menyaksikan bahwa Allah itu bersifat Rahman dan Rahiim, welas asih.

Dia mempercayakan nasibnya kepada Allah karena dia menyaksikan bahwa Allah itu Al Qodir wal Muktadir, Maha Berkuasa sekaligus Maha Mengatur / Menentukan. Dia mempercayakan rejeki dan penghidupannya kepada Allah karena dia menyaksikan bahwa Allah itu Ar-Rozaq wal Mughni, Yang Maha Memberi Rejeki dan Maha Memberi Kekayaan. Dia mempercayakan doa dan keluh kesahnya kepada Allah karena dia menyaksikan bahwa Allah itu Al Qoriib wal Mujiib, Yang Maha Dekat dan Maha Mengabulkan.

Dalam masa yang sama dia menyadari bahwa justru karena kekuasaan dan rahmat-Nyalah dia bisa berfikir dengan akalnya, bisa bergerak dengan anggota badannya, bisa bekerja dan berusaha. Orang yang demikian justru tidak malas, karena baginya mendaya gunakan akal pikiran dan anggota badannya untuk berkarya adalah merupakan pengabdian (baca: ibadah) kepada-Nya semata. Sedangkan hasil dari ikhtiarnya adalah merasa semata-mata karena anugerah Allah, bukan  dari dirinya sama sekali.

2 comments:

Anonim mengatakan...

I love your tiknan.blogspot.com
[url=http://www.facebook.com/pages/Cheap-electronic-cigarette/231831243515918]cheap electronic cigarette[/url]

Anonim mengatakan...

Alhamdulilah...matur suwun sanget atas ilmu bapak.Doakan saya bisa menjalani ilmu yg baru saya pelajari ini...bayu

RELATED POST

TERIMAKASIH

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kiranya Allah memberkati Anda