Langsung ke konten utama

ILMU PENARIK REJEKI

Dalam terminologi Kejawan ada perbedaan antara 'ilmu' dengan 'ngelmu'. Kedua - duanya mengacu kepada suatu pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan. Namun ada perbedaan diantara keduanya. Jika 'ilmu' berkaitan dengan kognitif - pengetahuan akal, sedangkan 'ngelmu' lebih mengarah kepada 'pengetahuan bathiniah' alias intuitif.

Pembahasan kali ini secara spesifik mengarah kepada pengucapan kalimat afirmatif positif untuk membangkitkan keyakinan dalam alam bawah sadar seseorang, yang mana kalimat afirmatif tesebut dalam terminologi keilmuan disebut 'mantra'.

Salah satu mantra yang menjadi kalimat afirmatif untuk 'penarik' rejeki adalah dibawah ini :

Bismillahirahmanir-rahiim, (kemudian mengheningkan cipta, berdoalah dengan cara memuji Tuhan dan memohon rejeki),

“Sri Rejeki,
Sedulurku kang ono keblat wetan pernahe,
Sedulurku kang ono keblat kidul pernahe,
Sedulurku kang onokeblat kulon pernahe,
Sedulurku kang ono keblat lor pernahe,
Bapa akasa,
Ibu pertiwi,
Wus pepak sedulurku papat kalimo pancer,
Rewangono ingsun golek rejeki sandang pangan, pepak rejeki, murah rejeki krana Allah ta’ala
Lailahailallahu Muhammadarasulullah”.


“Sri rejeki,
Saudaraku yang ada di keblat timur tempatnya,
Saudaraku ayng ada di keblat selatan tempatnya,
Saudaraku yang ada di keblat barat tempatnya, Saudaraku yang ada di keblat utara tempatnya,
Bapa Angkasa,
Ibu pertiwi,
Sudah genap saudaraku yang empat dan yang kelima ‘pancer’
Ikutlah bersamaku mencari rejeki, sandang pangan,
Cukup rejeki murah rejeki karena Allah ta’ala,
Lailahailallahu Muhammadarasulullah”



Mantra adalah Penyaksian.

Penyaksian suatu kesiapan mental kita menjadi saksi. Bisa menjadi saksi karena kita sendiri telah ‘melihat, mendengar dan atau mengalami dan merasakan sendiri. Jika berdoa memohon rejeki, maka sepatutnya kita sudah menjadi saksi dan menyaksikan bahwa diri ini adalah fakir tiada daya sama sekali. Sekaligus juga menyaksikan dan menjadi saksi bahwa Allah itu kaya, amat pemurah serta mau dan mampu mencurahkan rejeki pada kita.

Salah satu ‘alat’ yang mendongkrak kesaksian kita adalah mantra. Para orang tua zaman dulu mengajarkan mantra. Sebenarnya mantra adalah kalimat-kalimat afirmatif untuk memancing kesaksian mental atau alam bawah sadar kita.

Pada contoh mantra diatas maka kita menjadi saksi sekaligus menyaksikan bahwa Allah maha murah dengan menyediakan rejeki kita disemua tempat. Timur, selatan, barat, utara atas maupun bawah. Sekaligus kita mengakui sebagai bagian dari alam semesta.
Jika sudah menyatu penghayatannya maka dalam diri kita akan tumbuh etos kerja yang giat bahwa tugas
kitalah ‘mewadahi’ rejeki yang mengalir tersebut sekaligus memanfaatkannya demi kepentingan diri, keluarga dan sosial.

Biasanya sarana pembacaan mantra tersebut disertai laku yaitu bancaan jajan pasar. Artinya kita disuruhmemberi anak-anak kecil di sekitar kita makanan berupa jajanan yang disukai mereka. Sebenarnya ini adalah upaya meminta doa dari barokahnya ‘menyenangkan’ anak-anak. Hal ini mengajarkan watak sosial dalam diri kita.

Apakah harus mantra seperti diatas ? Tidak juga. Karena pada intinya adalah kesaksian kita yang diharapkan bisa bangkit dan berfungsi. Misalnya ketika kita memohon rejeki kepada Allah, apakah sat itu juga kita sudah menjadi saksi dan sekaligus menyaksikan kemurahan-Nya yaitu Dia memang Sang Pemberi Rejeki yang sedang memberi ‘uang’ kepada kita ?

Jika belum bisa bersaksi demikian maka jalan satu – satunya mari kirta berdoa mohon diberi petunjuk dan diajari oleh-Nya untuk bisa menyaksikan perbuatn-Nya (af’alNya) sebagai Ar-Rozaaq, Tuhan Sang Pemberi Rejeki. Jika kita sudah bisa menjadi saksi-Nya dan menyaksikan-Nya maka kemurahan-Nya akan menyelimuti kita.  Permohonan kita akan dimakbulkan-Nya. Rejeki akan diturunkan bagi kita tanpa perhitungan (bighoiri hisab). Amiin.

Salam, Tiknan Tasmaun. 

ARTIKEL TERKAIT :

1. Berdoa : mendikte Tuhan atau memohon ?

2.Allah - "My Real Big Boss" : Apa Yang Anda Persaksikan Maka Itulah Yang Terjadi

3.Konsultasi Kerejekian (3)

4. Kerejekian (2)

5. Kerejekian (1)

6. MENCAPAI IMAN DAN YAKIN : Berguru Kepada Anak - Anak

7. Deka : Pikiran Bawah Sadar, Antara Keinginan Manusia dan Rencana Tuhan

8. Mau hidup enak ? Berbaktilah kepada urang tua dan leluhur

9. MANTRA DAN SELF-MOTIVATION : seri motivasi, mind power

10. EMOSI DAN SPIRITUAL POWER : SUNATULLAH,solusi berbagai problem

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SELAMAT DATANG

Selamat datang dan selamat menikmati bunga rampai pemikiran penulis di bidang filsafat, analisa budaya dan sejarah, pengetahuan herbal dan beragam opini sosial budaya. Disamping blog ini untuk sharing pengetahuan dan pengalaman, di bawah ini juga penulis tampilkan daftar produk dan layanan dari penulis yang bisa diakses para pembaca yang membutuhkan. DAFTAR PRODUK HERBAL, PARFUM SPIRITUAL DAN EBOOK A. PRODUK KAMI : 1.   Ramuan komplit untuk wanita supaya menjadi 'seperti' gadis lagi, terdiri dari kapsul jamu untuk diminum dan herbal untuk gurah organ intim. Dengan  " HERBAL KEMBALI PERAWAN "  yang merupakan ramuan herbal sari rapet alami inilah yang menjadi solusi permasalahan organ kewanitaan Anda. Sangat cocok bagi gadis yang telah mengalami 'kecelakaan' maupun ibu-ibu yang mengalami organ intim longgar. Herbal ini juga sangat efektif untuk mengobati keputihan. Info lengkap silahkan lihat di  https://perawanrapetwangi.blogspot.com/2010/01/solusi-supaya-menj...

JEJAK SEJARAH DESA SAWO, DUKUN, GRESIK

RINGKASAN MAKALAH TENTANG DESA SAWO 1. TENTANG Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd  Makalah ini mendasarkan pada metodologi yang diperkenalkan oleh Dr. (HC) K.H. Ng. Adus Sunyoto, Mpd. Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd., seorang sejarawan fenomenal sekaligus Ketua Lesbumi PBNU, dikenal memiliki pandangan kritis dan khas terhadap metode pelacakan sumber sejarah di Jawa dan Nusantara. Menurut beliau, metode pelacakan sejarah di Nusantara tidak bisa disamakan begitu saja dengan metode positivisme murni ala Barat yang hanya mengakui arsip tertulis negara. Bagi Agus Sunyoto, sejarah Nusantara harus didekati secara "pribumi" (indigenos)—yaitu dengan menghargai tradisi tutur atau Folklor, toponimi (Toponimi adalah bidang ilmu linguistik yang mempelajari asal-usul, arti, dan sejarah penamaan suatu tempat atau wilayah geografis), peninggalan sosiologis, artifak dan arkeologis.    2. JEJAK SEJARAH :  2.1. MAKAM BERGAMBAR REMBULAN  Di makam Kyai Demak-an pada nisan B...

SANGKAN PARANING DUMADI : Jalan Pulang

Murid : "Guru, mohon Guru jelaskan dari mana aku berasal dan kemana aku akan pergi ?" Guru : "Sesungguhnya yang kamu tanyakan adalah 'sangkan paraning dumadi' (asal dan tujuan hidup). Atau lebih tepatnya jalan pulangmu. Ketahuilah dalam dirimu mengandung dua unsur pokok yaitu jasmanimu dan ruhaniahmu. Masing-masing mempunyai jalan pulang sendiri-sendiri Jasmanimu dicipta dari unsur alam ini. Tanah (bumi), udara (angin), api (panas) dan air. Karena asalnya dari bahan saripati alam maka kelak akan kembali ke alam lagi. Yang tanah kembali kepada tanah, yang angin kembali kepada angin, yang api kembali kepada api dan yang air akan menyatu kembali kepada air. Urut-urutannya adalah demikian. Saripati tanah, udara, panas dan air dihisap oleh tumbuhan kemudian diproses menjadi sari makanan. Tumbuhan tersebut ada yang dimakan hewan dan ada yang dimakan langsung oleh manusia. Hewan yang memakan tumbuhan itupun akhirnya juga dimakan manusia. Ahirnya saripati makanan...

Sejarah Sabdopalon Dan Syeh Subakir : PERJANJIAN LELUHUR JAWA

Ini adalah dialog imajiner antara Sabdopalon dengan Syeh Subakir di atas Gunung Tidar. Gunung Tidar adalah Gunung paku, pakunya Tanah Jawa. Juga gunung patok, patoknya Tanah Jawa. Juga disebut gunung punjer yang berarti punjer atau pusernya Tanah Jawa. Konon kisah ini tertulis dalam lontar Sunan Drajad yang masih disimpan ahli keteurunan Beliau. Hikayat ini pernah dipentaskan sebagai lakon wayang songsong di Desa Drajad, Paciran, Lamongan. Kemudian kami juga mementaskan lakon ini dalam pertunjukan wayang Tengul saat hajatan pernikahan putri kami dengan sedikit penyesuaian. Pada pementasan di rumah, kami namai lakonnya dengan Lakon : Babat Tanah Jawi - Nikahnya Kanjeng Sunan Drajad. Syeh Subakir : Kisanak, siapakah kisanak ini, tolong jelaskan.   Sabdopalon : Aku ini Sabdopalon, pamomong (penggembala)Tanah Jawa sejak jaman dahulu kala. Bahkan sejak jaman kadewatan (para dewa) akulah pamomong para kesatria leluhur. Dulu aku dikenali sebagai Sang Hyang Ismoyo Jati, lalu di...

The Four Elements of the Human Body

 The Four Elements of the Human Body The human body contains the four elements of nature, namely earth, water, fire (heat) and wind (air). All four influence human desires.  The earth element affects the desire for food and drink and the sufficiency of the body's needs.  The air element influences the human spirit to acquire worldly possessions. Even how much wealth is obtained will still feel lacking for humans. Like smoke in the air, it will continue to grow and fill the existing space.  The fire element influences the human will to be angry and defend itself against threats.  The water element influences the human spirit to be patient and accept God's fate. All four elements are important for the body. The influence on the will of the soul is also important so that humans can survive in the world. However, humans must also control these desires so that they remain within reasonable and controllable limits. If you cannot control them, you will fall into the lu...