PENULIS mengucapkan Selamat Datang serta Salam Sejahtera bagi pembaca sekalian yang budiman. Mari kita temukan solusi atas berbagai problem dalam kehidupan ini menuju hidup yang sukses, mulia, sehat, berkecukupan namun terhormat. Blog ini berisi pengalaman, pemikiran, perenungan / kontemplasi penulis sebagai hasil dari interaksi dengan para sahabat, para guru, para klien maupun hasil dari 'pembacaan' alam sebagai wujud 'ayat-ayatNya'. Semoga blog ini bermanfaat

Sabtu, Desember 17, 2016

Menutup Aib Diri

Menutup aib diri sendiri atau aib orang lain adalah tindakan yang terpuji baik dari sisi agama maupun sosio-psikologis. Mengapa demikian ? Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. Semulia apapun seorang manusia biasa jaman sekarang di mata masyarakat, pasti secara pribadi dia tetap punya cacat, cela dan aib. Hanya saja aib tersebut ditutupi Allah untuk memuliakan hamba tersebut. Karena itulah maka hal menutup aib diri maupun orang lain itu adalah perkara yang mulia.      

Janganlah Membuka Aib Baik Aib Orang Lain Maupun Aib Diri Sendiri.

Allah berfirman yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan aib orang lain; dan janganlah kamu mengumpat sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (Surat 49 Al Hujarat ayat 12).

Rasulullah SAW juga bersabda, yang artinya: "Wahai orang yang beriman dengan lisannya, tetapi tidak beriman dengan hatinya, janganlah kamu mengumpat kaum muslimin dan janganlah mengintip aib mereka. Barangsiapa yang mengintip aib saudaranya, niscaya Allah akan mengintip aibnya. Siapa yang diintip Allah akan aibnya, maka Allah akan membuka aibnya meskipun dirahasiakan di lubang kendaraannya." (HR At-Tirmidzi).

Bahkan, Rasulullah SAW juga melarang seseorang untuk membuka aib dirinya sendiri kepada orang lain, sebagaimana sabdanya: "Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu – padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya." (HR Bukhori Muslim).

Menutub Aib Orang Lain Adalah Perbuatan Mulia.

Rasulullah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang menutup aib saudara-saudara mereka, dengan menutup aib mereka di dunia dan akhirat, seperti dalam hadis sahih: "Dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat." (HR Muslim)

JENIS AIB YANG PERLU DITUTUP : 
  1. Aib yang sifatnya kodrati atau semula-jadi. Aib yang sifatnya kodrati dan bukan merupakan perbuatan maksiat. Seperti cacat di salah satu organ tubuh atau penyakit yang membuatnya malu jika diketahui oleh orang lain.
  2. Aib yang berupa perbuatan maksiat yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perbuatan tersebut hanya merusak hubungannya secara pribadi dengan Allah, seperti minum khamr, berzina, dan lainnya. Jika seorang muslim mendapati saudaranya melakukan perbuatan seperti ini, hendaklah ia tidak menyebarluaskan hal tersebut. Namun, dia tetap memiliki kewajiban untuk melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar.

AIB YANG TIDAK WAJIB DITUTUPI :

Aib yang tidak wajib ditutupi adalah perbuatan maksiat yang dilakukan sembunyi-sembunyi tapi merugikan orang lain, seperti mencuri, korupsi, dan lainnya. Perbuatan seperti ini diperbolehkan untuk diselidiki dan diungkap, karena hal ini sangat berbahaya jika dibiarkan. Sebab, akan lebih banyak lagi masyarakat yang akan menjadi korban.

CONTOH KASUS :

Seorang gadis yang karena suatu sebab sudah kehilangan mahkota berharganya, kemudian dia akan menikah, apakah dia perlu berterus terang atau menutupi aibnya tersebut kepada calon suaminya ?

Menurut hemat penulis, maka perkara ini bisa ditinjau dari minimal dua sudut, yaitu sudut keagamaan dan sudut sosio-psikologis. Dari sudut keagamaan, penulis berpendapat bahwa si gadis tidak usah menceritakan aibnya tersebut, bahkan perlu menutup aib tersebut.

Sedangkan dari sudut sosio-psikologis maka pandangan penulis demikian :

Sebenarnya akan sangat indah jika si gadis yang sudah kehilangan keperawannya bisa berlaku berterus terang akan keadaannya kepada calon suami dan demikian juga si calon suami mampu menerima keadan tersebut secara ikhlas.

Namun, hal demikian sangat sulit terjadi, khusunya bagi kita masyarakat Asia ini. Mayoritas kaum lelaki kita masih egois, menuntut keperawanan calon istri. Tidak bisa menerima keadaan calon istri apa adanya. Padahal, seharusnya masa lalu siapapun, termasuk masa lalu calon istri, adalah hak dia, bukan hak calon suami untuk menghakimi.

Justru yang terjadi jika si gadis menceritakan apa adanya, maka si calon suami biasanya akan memutuskan pertunangan dan membatalkan pernikahan. Pun jika berlanjut ke jenjang pernikahan, maka sangat rentan terjadi konflik laten antara pasangan tersebut. Ada konflik sekecil apapun, sangat mudah bagi si suami untuk mengungkit - ungkit masa lalu si istri.

Karena itu, dari sudut sosio - psikologis, penulis berpendapat sebaiknya si gadis yang sudah kehilangan keperawanannya TIDAK PERLU MENCERITAKAN aib tersebut kepada calon suami demi kebahagiaan kehidupan rumah tangga kelak.

BEBERAPA HAL YANG PERLU DIGARIS BAWAHI DALAM CONTOH KASUS INI ADALAH:
  1. Bagi para gadis, jagalah kesucian (keperawanan) kalian. Karena keperawanan adalah sesuatu yang amat berharga sebagai anugerah Tuhan bagi kalian. 
  2. Keperawanan memang bisa hilang karena berbagai sebab baik karena perzinahan dengan kekasih (faktor suka-sama auka) maupun pemerkosaan. 
  3. Bagi para gadis yangng sudah terlanjur kehilangan keperawanan karena kesalahan dan kelalaian (perzinahan) maka segeralah bertaubat nasuhah (taubat dengan sebenar-benarnya). 
  4. Bagi gadis korban pemerkosaan, tabahlah, karena kesucian hakikimu tidak serta merta turut hilang karena peristiwa tersebut. 
  5. Bagi para gadis yang sudah kehilangan keperawanannya sebaiknya tidak usah menceritakan aib tersebut kepada calon suaminya demi tercapainya maslahat dan kebahagiaan rumah tangga kelak.
    Bagaimanapun, supaya menghilangkan trauma dan ketakutan bagi anda para gadis yang telah kehilangan keperawanan karena berbagai sebab, perlu solusi sehingga alat kewanitaan anda bisa pulih menjadi selayaknya perawan lagi. Dan ketika malam pertama anda dengan suami bisa mengalami sensasi layaknya malam pertama ketika anda masih gadis. Untuk itu silahkan baca di tautan https://perawanrapetwangi.blogspot.co.id/2010/01/solusi-supaya-menjadi-perawan-kembali.html.

Sekian artikel ini semoga bermanfaat.

0 comments: