Langsung ke konten utama

Manunggaling Kawulo-Gusti

 Membicarakan Konsep Manunggaling Kawulo-Gusti ini bagaikan membicarakan seks. Seks adalah halal dan pasti benar jika dilakukan oleh orang yang telah berhak melakukannya. Seks benar jika dilakukan dan dibicarakan oleh pasangan suami istri. Namun seks menjadi tidak benar jika dibicarakan apalagi dilakukan oleh anak-anak. Bukan seks-nya yang salah, tetapi pelakunya yang salah.

Tema tentang Konsep Manunggaling Kawulo-Gusti (MKG) atau manunggalnya hamba dengan Tuhan ini adalah konsep yang sudah lama sekali dalam sejarah keagamaan, khususnya Islam. Ada yang menyebut bahwa konsep ini adalah pengejawantahan dari konsep aliran Wahdatul Wujud. Saya sendiri kurang tahu tentang wahdatul wujud jadi tidak hendak mengomentari konsep kepercayaan tersebut.

Tentang konsep Manunggaling Kawulo-Gusti inipun saya tidak tahu apakah konsep saya sama persis dengan konsep para tokoh yang dianggap pelopor ajaran MKG ini, misalnya Kanjeng Waliyullah Syeh Siti Jenar atau misalnya dengan Kiyahi Burhan alias Raden Ngabehi Ronggowarsito. Jadi saya tidak hendak membandingkan konsep saya dengan mereka, karena saya tentu 'bukan apa-apa' dibandingkan mereka. Apalagi menilai ajaran mereka, wow nggak berani, takut kualat.

Bagi saya, konsep MKG adalah merasa diri fana, tidak ada apa-apanya dan bukan siapa-siapa. Sekedar hamba Allah, makhluk Allah yang tiada berdaya, yang kebetulan menyandang amanah sebagai 'khalifah' (wakil) Allah untuk memakmurkan bumi ini. Itu bukanlah tugas yang ringan. Tugas yang berbanding lurus dengan kewajiban 'ibadah' ("Tidaklah Aku cipta jin dan manusia kecuali untuk beribadah"). Juga tugas yang berbanding lurus dengan perintah "mengenal-Nya" ( "Aku mencipta makhluk supaya mereka mengenal-Ku"- hadist Qudsi ).

Justru karena yakin akan kebenaran "Laa haula wa laa quwata illa billah" maka sang diri merasa fana tiada berdaya. Bukan diri ini yang bisa melihat, namun Allah Yang Maha Melihat yang meminjamkan atau mengalirkan daya penglihatan kepada diri ini. Bukan diri ini yang mampu mendengar namun Dia yang meminjamkan pendengaran ini. Bukan diri ini yang bisa berjalan namun Dia yang mengalirkan kekuatan untuk berjalan. Bukan diri ini yang bisa sembahyang dan berdoa namun karena welas asihNya yang menuntun (dengan hidayahNya) dan memberi kekuatn diri untu beribadah.

Kalau MKG dimaknai bahwa tiada daya dan upaya melainkan pertolonganNya maka pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa segala kebaikan adalah milikNya maka pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa hidup ini pada hakekatnya adalah milikNya maka harus kita kembalikan, kita persembahkan kembali untukNya maka pengertian itu pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa kita harus meneruskan misi rasulullah bahwa kita harus menebarkan 'rahmah' atau kasih sayang kepada alam semesta ( makhluk semuanya ) maka pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa apapun yang kita lakukan ini dalam rangka mengemban amanah-Nya untuk menjadi khalifah-Nya untuk mengatur dan memakmurkan kehidupan ini untuk mencapau ridlo-Nya maka makna ini pasti benar.

Kalau MKG dimaknai bahwa Allah itu Maha Dekat (Al-Qoriib) maka itu benar. Jikapun dimaknai bahwa Dia yang menentukan kehidupan kita (Al Qodir wal muktadir) itupun benar. Kalu MKG dimaknai bahwa dalam setiap tarikan nafas kita kita harus senantiasa mengingat-Nya maka itu adalah pengertian yang bukan hanya benar namun sangat terpuji.

Kenapa benar makna-makna tersebut ? Karena sesuai dengan ajaran Quran dan Rasulullah serta sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita. Lalu kenapa konsep MKG ini selalu menghebohkan ? Bahkan untuk menyebutnya pun orang takut ? Tentu tidak lain adalah stigma negatif yang melekat pada konsep ini.

Membicarakan Konsep MKG ini bagaikan membicarakan seks. Seks adalah halal dan pasti benar jika dilakukan oleh orang yang telah berhak melakukannya. Seks benar jika dilakukan dan dibicarakan oleh pasangan suami istri. Namun seks menjadi tidak benar jika dibicarakan apalagi dilakukan oleh anak-anak. Bukan seks-nya yang salah, tetapi pelakunya yang salah. Begitu juga dengan konsep MKG ini. Tidak dipungkiri bahwa mungkin ada beberapa pengertian-pengertian atau makna - makna lain tentang konsep MKG ini yang selain yang diatas, yang bisa jadi saya dan Anda tidak sependapat (belum tentu salah lho ! ) Namun, apapun itu salah ataupun benarnya bukan saya atau Anda yang berhak memutuskan. Biarlah Allah sendiri yang memberi keputusan. Insya Allah jika  pencarian jiwa itu adalah dalam rangka mengenal-Nya dan mencari ridlo-Nya maka Dia sendiri yang akan menuntun dan membetulkannya. Wallahu a'lam.

Salam, Tiknan Tasmaun

Komentar

  1. sebuah sudut pandang yang bagus menegenai MKG.....

    BalasHapus
  2. Aku punya pandangan lain tentang manunggaling kawula lan Gusti ; Se seorang yang dicintai Allah entah karena apa ( hanya Allah yang tahu )dan apa yang dikehendaki Allah mengabulkan ( tetapi orang
    terebut dalam meminta tidak semba-
    rangan artinya tidak karena napsu
    nya ia meminta tapi karena fitroh
    nya ).

    BalasHapus
  3. Bagaimana jika seandainya Tuhan bersabda demikian: Saat AKU menciptakan segala sesuatu maka AKU mengambil bagian dari DIRIKU dan AKU jadikan sebagai makhluk ciptaanKU yang baru, dengan demikian AKU mencintai makhluk-makhluk ciptaanKU karena mereka adalah bagian dariKU dan Aku memberikan kepada mereka kuasa untuk melakukan sebagian rencana besarKU untuk mencapai kesempurnaan kemuliaan.

    BalasHapus
  4. mkg nyata atau hayalan belaka?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SELAMAT DATANG

Selamat datang dan selamat menikmati bunga rampai pemikiran penulis di bidang filsafat, analisa budaya dan sejarah, pengetahuan herbal dan beragam opini sosial budaya. Disamping blog ini untuk sharing pengetahuan dan pengalaman, di bawah ini juga penulis tampilkan daftar produk dan layanan dari penulis yang bisa diakses para pembaca yang membutuhkan. DAFTAR PRODUK HERBAL, PARFUM SPIRITUAL DAN EBOOK A. PRODUK KAMI : 1.   Ramuan komplit untuk wanita supaya menjadi 'seperti' gadis lagi, terdiri dari kapsul jamu untuk diminum dan herbal untuk gurah organ intim. Dengan  " HERBAL KEMBALI PERAWAN "  yang merupakan ramuan herbal sari rapet alami inilah yang menjadi solusi permasalahan organ kewanitaan Anda. Sangat cocok bagi gadis yang telah mengalami 'kecelakaan' maupun ibu-ibu yang mengalami organ intim longgar. Herbal ini juga sangat efektif untuk mengobati keputihan. Info lengkap silahkan lihat di  https://perawanrapetwangi.blogspot.com/2010/01/solusi-supaya-menj...

JEJAK SEJARAH DESA SAWO, DUKUN, GRESIK

RINGKASAN MAKALAH TENTANG DESA SAWO 1. TENTANG Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd  Makalah ini mendasarkan pada metodologi yang diperkenalkan oleh Dr. (HC) K.H. Ng. Adus Sunyoto, Mpd. Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd., seorang sejarawan fenomenal sekaligus Ketua Lesbumi PBNU, dikenal memiliki pandangan kritis dan khas terhadap metode pelacakan sumber sejarah di Jawa dan Nusantara. Menurut beliau, metode pelacakan sejarah di Nusantara tidak bisa disamakan begitu saja dengan metode positivisme murni ala Barat yang hanya mengakui arsip tertulis negara. Bagi Agus Sunyoto, sejarah Nusantara harus didekati secara "pribumi" (indigenos)—yaitu dengan menghargai tradisi tutur atau Folklor, toponimi (Toponimi adalah bidang ilmu linguistik yang mempelajari asal-usul, arti, dan sejarah penamaan suatu tempat atau wilayah geografis), peninggalan sosiologis, artifak dan arkeologis.    2. JEJAK SEJARAH :  2.1. MAKAM BERGAMBAR REMBULAN  Di makam Kyai Demak-an pada nisan B...

SANGKAN PARANING DUMADI : Jalan Pulang

Murid : "Guru, mohon Guru jelaskan dari mana aku berasal dan kemana aku akan pergi ?" Guru : "Sesungguhnya yang kamu tanyakan adalah 'sangkan paraning dumadi' (asal dan tujuan hidup). Atau lebih tepatnya jalan pulangmu. Ketahuilah dalam dirimu mengandung dua unsur pokok yaitu jasmanimu dan ruhaniahmu. Masing-masing mempunyai jalan pulang sendiri-sendiri Jasmanimu dicipta dari unsur alam ini. Tanah (bumi), udara (angin), api (panas) dan air. Karena asalnya dari bahan saripati alam maka kelak akan kembali ke alam lagi. Yang tanah kembali kepada tanah, yang angin kembali kepada angin, yang api kembali kepada api dan yang air akan menyatu kembali kepada air. Urut-urutannya adalah demikian. Saripati tanah, udara, panas dan air dihisap oleh tumbuhan kemudian diproses menjadi sari makanan. Tumbuhan tersebut ada yang dimakan hewan dan ada yang dimakan langsung oleh manusia. Hewan yang memakan tumbuhan itupun akhirnya juga dimakan manusia. Ahirnya saripati makanan...

Sejarah Sabdopalon Dan Syeh Subakir : PERJANJIAN LELUHUR JAWA

Ini adalah dialog imajiner antara Sabdopalon dengan Syeh Subakir di atas Gunung Tidar. Gunung Tidar adalah Gunung paku, pakunya Tanah Jawa. Juga gunung patok, patoknya Tanah Jawa. Juga disebut gunung punjer yang berarti punjer atau pusernya Tanah Jawa. Konon kisah ini tertulis dalam lontar Sunan Drajad yang masih disimpan ahli keteurunan Beliau. Hikayat ini pernah dipentaskan sebagai lakon wayang songsong di Desa Drajad, Paciran, Lamongan. Kemudian kami juga mementaskan lakon ini dalam pertunjukan wayang Tengul saat hajatan pernikahan putri kami dengan sedikit penyesuaian. Pada pementasan di rumah, kami namai lakonnya dengan Lakon : Babat Tanah Jawi - Nikahnya Kanjeng Sunan Drajad. Syeh Subakir : Kisanak, siapakah kisanak ini, tolong jelaskan.   Sabdopalon : Aku ini Sabdopalon, pamomong (penggembala)Tanah Jawa sejak jaman dahulu kala. Bahkan sejak jaman kadewatan (para dewa) akulah pamomong para kesatria leluhur. Dulu aku dikenali sebagai Sang Hyang Ismoyo Jati, lalu di...

The Four Elements of the Human Body

 The Four Elements of the Human Body The human body contains the four elements of nature, namely earth, water, fire (heat) and wind (air). All four influence human desires.  The earth element affects the desire for food and drink and the sufficiency of the body's needs.  The air element influences the human spirit to acquire worldly possessions. Even how much wealth is obtained will still feel lacking for humans. Like smoke in the air, it will continue to grow and fill the existing space.  The fire element influences the human will to be angry and defend itself against threats.  The water element influences the human spirit to be patient and accept God's fate. All four elements are important for the body. The influence on the will of the soul is also important so that humans can survive in the world. However, humans must also control these desires so that they remain within reasonable and controllable limits. If you cannot control them, you will fall into the lu...