Langsung ke konten utama

BERDOA : MENDIKTE TUHAN ATAU MEMOHON ?

    "Ya selama ini berarti ada kesalahan praktek dalam berdoa. Seberapa sering kita berdoa dengan cara seakan-akan mendikte Tuhan, bukannya memohon atau mengemis belas kasihan-Nya. Bahkan seharusnya kita merasa 'tak layak' untuk mengeluh. Hatta untuk memintapun 'tak layak'. Karena banyak cacat cela yang telah kita perbuat. Hanya karena kasih dan kemurahan-Nya (birohmati wa bi fadlillahi) saja kita memohon kepada-Nya. Memohon dan tentu dengan berserah diri. Bahkan mempercayakan diri seutuhnya kepada - Nya karena memang Dia adalah Sang Maha Pengasih Penyayang"

Penulis teringat kepada salah seorang Kyai yang dari dulu maupun sampai sekarang, walau beliau sudah berpulang ke rahmatullah, senantiasa terasa dekat di hati. Nama beliau K.H. Bey Sadad tinggal di Surabaya. Suatu hari penulis 'sowan' kepada beliau. Tujuan penulis adalah memohon petua serta petunjuk kiranya permasalahan yang dialami penulis segera mendapat jalan keluar.

"Kyai, ijinkan saya bertanya sesuatu, namun mohon maaf sebelumnya....", pintaku ketika itu.

Dengan senyumnya yang khas beliau mempersilahkan,"Silahkan...tanyalah...semoga aku bisa membantu memberi pencerahan..."

"Begini Kyai....mengapa doa-doaku belum dijawab Allah,...bagaimana sih supaya doaku diijabah oleh-Nya", tanyaku.

"Terus terang, jangan kaget terhadap jawabanku ini," kata beliau memulai. "Kamu sudah mengenal-Nya ?", lanjutnya. "Wong kenal saja nggak kok kerjanya minta melulu. Mending kalau minta, jangan-jangan kamu mendikte lagi."

Blarrrrr.....bagiku itu seperti ada petir menyambar di siang bolong. Memeranjatkan sekali. Mengagetkan. Seperti aku terbangun dari mimpi yang panjang. Bangun dengan kesadaran yang menyentak-nyentak. Seperti aku melihat terowong panjang. Di ujung terowong ada seberkas cahaya. Samar-samar. Hilang dan muncul. Muncul dan hilang.

"Lebih baik kamu katakan kepada-Nya, Ya Allah memang benar tiada Tuhan kecuali Engkau, Engkau maha suci dan maha benar tak pernah salah, apaupun kondisi yang kualami adalah karena kesalahanku sendiri", demikian wejangannya.

Ada tiga  kata kunci yang senantiasa mengiang di otakku yaitu : Mengenal-Nya, berdoa bukanlah mendikte , dan merendahkan diri.

Ya selama ini berarti ada kesalahan konsep  pada diriku terhadap doa. Berdoa bukan berarti mendikte Tuhan tetapi memohon atau mengemis belas kasihan-Nya. Bahkan seharusnya aku merasa 'tak layak' untuk mengeluh. Bahkan untuk memintapun tak layak. Karena banyak cacat cela yang telah kita perbuat. Hanya karena kasih dan kemurahan-Nya (birohmati wa bi fadlillahi) saja kita memohon kepada-Nya. Memohon dan tentu dengan berserah diri. Bahkan mempercayakan diri seutuhnya karena memang Dia adalah Sang Maha Pengasih Penyayang. Ya...itu cahaya diujung terowong yang kini sedang kuhampiri.

Nah, tentu yang namanya berdoa dilihat dari sisi manusianya adalah suatu ikhtiar. Ikhtiar yang bersifat bathiniah. Berdoa bukan saja melantunkan lafal-lafal tertentu tetapi lebih kepada 'menyelaraskan' kehendak kita kepada kehendak-Nya. Juga menyelaraskan pada sunah-Nya yaitu hukum alam yang sudah ditakdirkan-Nya.

Dalam hal ini termasuk bekerja secara amanah juga masuk dalam lingkup berdoa. Berusaha sekuat tenaga juga termasuk berdoa. Dengan catatan bahwa ada kesadaran bahwa apa yang kita lakukan adalah 'hanya' semata-mata terjadi karena kemurahan-Nya dan sekaligus hasil yang kita dapat juga semata-mata karena kemurahan-Nya.

Termasuk juga hal ini. Jika ingin diluluskan permohonannya oleh Allah maka luluskan permintaan makhluk-Nya yang sedang minta pertolongan kepada kita. Jika ingin diberi oleh Allah maka berilah makhluk-Nya. Jika ingin disayang oleh Allah maka sayangilah makhluk-Nya. Namun lagi-lagi, kita bisa memberi orang lain, menyayangi makhluk lain dan menolong orang lainpun karena semata-mata karena kasih karunia-Nya.

Ada kisah dari seorang kawan. Dia kerja sebagai penjahit di kedai jahit. Ketika berangkat kerja, di angkot ada anak-anak meminta-minta. Kebetulan semua penumpang angkot tersebut tidak ada yang mau memeri. Si kawan ini kasihan kemudian merogoh kantong bajunya. Masih ada uang tiga ribu perak, sisa ongkos angkot. Diberikannya uang tersebut kepada anak peminta sedekah ini.

Anda tahu apa yang terjadi kemudian ? Pada siang harinya ada seorang kaya yang sedang merepair pakaian di kedai jahit tempat kawan bekerja tersebut. Kebetulan kawan ini yang kena tugas melayani. Ongkos memang tidak seberapa. Namun dia memberi tips uang sebesar 150.000 rupiah kepada kawan ini. Subhanallah, menolong anak yang lagi meminta-minta dengan memberi uang hanya tiga ribu rupiah namun kontan dibalas Allah dengan uang seratus lima puluh ribu rupiah. Mungkin saja karena keikhlasan si kawan ini dalam menolong sesama makhluk Allah. Itu dari sisi manusianya. Dari sisi Allah tentu semata-mata karena sifat rahman dan rahiim-Nya.

Salam, Tiknan Tasmaun

Komentar

  1. check backlink seo submission backlink service high quality backlinks

    BalasHapus
  2. When will you post again ? Been looking forward to this !

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SELAMAT DATANG

Selamat datang dan selamat menikmati bunga rampai pemikiran penulis di bidang filsafat, analisa budaya dan sejarah, pengetahuan herbal dan beragam opini sosial budaya. Disamping blog ini untuk sharing pengetahuan dan pengalaman, di bawah ini juga penulis tampilkan daftar produk dan layanan dari penulis yang bisa diakses para pembaca yang membutuhkan. DAFTAR PRODUK HERBAL, PARFUM SPIRITUAL DAN EBOOK A. PRODUK KAMI : 1.   Ramuan komplit untuk wanita supaya menjadi 'seperti' gadis lagi, terdiri dari kapsul jamu untuk diminum dan herbal untuk gurah organ intim. Dengan  " HERBAL KEMBALI PERAWAN "  yang merupakan ramuan herbal sari rapet alami inilah yang menjadi solusi permasalahan organ kewanitaan Anda. Sangat cocok bagi gadis yang telah mengalami 'kecelakaan' maupun ibu-ibu yang mengalami organ intim longgar. Herbal ini juga sangat efektif untuk mengobati keputihan. Info lengkap silahkan lihat di  https://perawanrapetwangi.blogspot.com/2010/01/solusi-supaya-menj...

JEJAK SEJARAH DESA SAWO, DUKUN, GRESIK

RINGKASAN MAKALAH TENTANG DESA SAWO 1. TENTANG Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd  Makalah ini mendasarkan pada metodologi yang diperkenalkan oleh Dr. (HC) K.H. Ng. Adus Sunyoto, Mpd. Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd., seorang sejarawan fenomenal sekaligus Ketua Lesbumi PBNU, dikenal memiliki pandangan kritis dan khas terhadap metode pelacakan sumber sejarah di Jawa dan Nusantara. Menurut beliau, metode pelacakan sejarah di Nusantara tidak bisa disamakan begitu saja dengan metode positivisme murni ala Barat yang hanya mengakui arsip tertulis negara. Bagi Agus Sunyoto, sejarah Nusantara harus didekati secara "pribumi" (indigenos)—yaitu dengan menghargai tradisi tutur atau Folklor, toponimi (Toponimi adalah bidang ilmu linguistik yang mempelajari asal-usul, arti, dan sejarah penamaan suatu tempat atau wilayah geografis), peninggalan sosiologis, artifak dan arkeologis.    2. JEJAK SEJARAH :  2.1. MAKAM BERGAMBAR REMBULAN  Di makam Kyai Demak-an pada nisan B...

SANGKAN PARANING DUMADI : Jalan Pulang

Murid : "Guru, mohon Guru jelaskan dari mana aku berasal dan kemana aku akan pergi ?" Guru : "Sesungguhnya yang kamu tanyakan adalah 'sangkan paraning dumadi' (asal dan tujuan hidup). Atau lebih tepatnya jalan pulangmu. Ketahuilah dalam dirimu mengandung dua unsur pokok yaitu jasmanimu dan ruhaniahmu. Masing-masing mempunyai jalan pulang sendiri-sendiri Jasmanimu dicipta dari unsur alam ini. Tanah (bumi), udara (angin), api (panas) dan air. Karena asalnya dari bahan saripati alam maka kelak akan kembali ke alam lagi. Yang tanah kembali kepada tanah, yang angin kembali kepada angin, yang api kembali kepada api dan yang air akan menyatu kembali kepada air. Urut-urutannya adalah demikian. Saripati tanah, udara, panas dan air dihisap oleh tumbuhan kemudian diproses menjadi sari makanan. Tumbuhan tersebut ada yang dimakan hewan dan ada yang dimakan langsung oleh manusia. Hewan yang memakan tumbuhan itupun akhirnya juga dimakan manusia. Ahirnya saripati makanan...

Sejarah Sabdopalon Dan Syeh Subakir : PERJANJIAN LELUHUR JAWA

Ini adalah dialog imajiner antara Sabdopalon dengan Syeh Subakir di atas Gunung Tidar. Gunung Tidar adalah Gunung paku, pakunya Tanah Jawa. Juga gunung patok, patoknya Tanah Jawa. Juga disebut gunung punjer yang berarti punjer atau pusernya Tanah Jawa. Konon kisah ini tertulis dalam lontar Sunan Drajad yang masih disimpan ahli keteurunan Beliau. Hikayat ini pernah dipentaskan sebagai lakon wayang songsong di Desa Drajad, Paciran, Lamongan. Kemudian kami juga mementaskan lakon ini dalam pertunjukan wayang Tengul saat hajatan pernikahan putri kami dengan sedikit penyesuaian. Pada pementasan di rumah, kami namai lakonnya dengan Lakon : Babat Tanah Jawi - Nikahnya Kanjeng Sunan Drajad. Syeh Subakir : Kisanak, siapakah kisanak ini, tolong jelaskan.   Sabdopalon : Aku ini Sabdopalon, pamomong (penggembala)Tanah Jawa sejak jaman dahulu kala. Bahkan sejak jaman kadewatan (para dewa) akulah pamomong para kesatria leluhur. Dulu aku dikenali sebagai Sang Hyang Ismoyo Jati, lalu di...

The Four Elements of the Human Body

 The Four Elements of the Human Body The human body contains the four elements of nature, namely earth, water, fire (heat) and wind (air). All four influence human desires.  The earth element affects the desire for food and drink and the sufficiency of the body's needs.  The air element influences the human spirit to acquire worldly possessions. Even how much wealth is obtained will still feel lacking for humans. Like smoke in the air, it will continue to grow and fill the existing space.  The fire element influences the human will to be angry and defend itself against threats.  The water element influences the human spirit to be patient and accept God's fate. All four elements are important for the body. The influence on the will of the soul is also important so that humans can survive in the world. However, humans must also control these desires so that they remain within reasonable and controllable limits. If you cannot control them, you will fall into the lu...