PENULIS mengucapkan Selamat Datang serta Salam Sejahtera bagi pembaca sekalian yang budiman. Mari kita temukan solusi atas berbagai problem dalam kehidupan ini menuju hidup yang sukses, mulia, sehat, berkecukupan namun terhormat. Blog ini berisi pengalaman, pemikiran, perenungan / kontemplasi penulis sebagai hasil dari interaksi dengan para sahabat, para guru, para klien maupun hasil dari 'pembacaan' alam sebagai wujud 'ayat-ayatNya'. Semoga blog ini bermanfaat

TENTANG PENULIS

Foto saya
Gresik, Jawa Timur, Indonesia
Penulis adalah Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di rt 13/ rw o7,Sawo,Dukun,Gresik-61155. Data Diri Penulis secara lengkap bisa dilihat di Tentang Kami. Kontak penulis di no.hp: +6285850960090 atau via email ke: powerman.tiknan@gmail.com

Jumat, Februari 04, 2011

BERDOA : MENDIKTE TUHAN ATAU MEMOHON ?

"Ya selama ini berarti ada kesalahan praktek dalam berdoa. Seberapa sering kita berdoa dengan cara seakan-akan mendikte Tuhan, bukannya memohon atau mengemis belas kasihan-Nya. Bahkan seharusnya kita merasa 'tak layak' untuk mengeluh. Hatta untuk memintapun 'tak layak'. Karena banyak cacat cela yang telah kita perbuat. Hanya karena kasih dan kemurahan-Nya (birohmati wa bi fadlillahi) saja kita memohon kepada-Nya. Memohon dan tentu dengan berserah diri. Bahkan mempercayakan diri seutuhnya kepada - Nya karena memang Dia adalah Sang Maha Pengasih Penyayang"

Penulis teringat kepada salah seorang Kyai yang dari dulu maupun sampai sekarang, walau beliau sudah berpulang ke rahmatullah, senantiasa terasa dekat di hati. Nama beliau K.H. Bey Sadad tinggal di Surabaya. Suatu hari penulis 'sowan' kepada beliau. Tujuan penulis adalah memohon petua serta petunjuk kiranya permasalahan yang dialami penulis segera mendapat jalan keluar.

"Kyai, ijinkan saya bertanya sesuatu, namun mohon maaf sebelumnya....", pintaku ketika itu.

Dengan senyumnya yang khas beliau mempersilahkan,"Silahkan...tanyalah...semoga aku bisa membantu memberi pencerahan..."

"Begini Kyai....mengapa doa-doaku belum dijawab Allah,...bagaimana sih supaya doaku diijabah oleh-Nya", tanyaku.

"Terus terang, jangan kaget terhadap jawabanku ini," kata beliau memulai. "Kamu sudah mengenal-Nya ?", lanjutnya. "Wong kenal saja nggak kok kerjanya minta melulu. Mending kalau minta, jangan-jangan kamu mendikte lagi."

Blarrrrr.....bagiku itu seperti ada petir menyambar di siang bolong. Memeranjatkan sekali. Mengagetkan. Seperti aku terbangun dari mimpi yang panjang. Bangun dengan kesadaran yang menyentak-nyentak. Seperti aku melihat terowong panjang. Di ujung terowong ada seberkas cahaya. Samar-samar. Hilang dan muncul. Muncul dan hilang.

"Lebih baik kamu katakan kepada-Nya, Ya Allah memang benar tiada Tuhan kecuali Engkau, Engkau maha suci dan maha benar tak pernah salah, apaupun kondisi yang kualami adalah karena kesalahanku sendiri", demikian wejangannya.

Ada tiga  kata kunci yang senantiasa mengiang di otakku yaitu : Mengenal-Nya, berdoa bukanlah mendikte , dan merendahkan diri.

Ya selama ini berarti ada kesalahan konsep  pada diriku terhadap doa. Berdoa bukan berarti mendikte Tuhan tetapi memohon atau mengemis belas kasihan-Nya. Bahkan seharusnya aku merasa 'tak layak' untuk mengeluh. Bahkan untuk memintapun tak layak. Karena banyak cacat cela yang telah kita perbuat. Hanya karena kasih dan kemurahan-Nya (birohmati wa bi fadlillahi) saja kita memohon kepada-Nya. Memohon dan tentu dengan berserah diri. Bahkan mempercayakan diri seutuhnya karena memang Dia adalah Sang Maha Pengasih Penyayang. Ya...itu cahaya diujung terowong yang kini sedang kuhampiri.

Nah, tentu yang namanya berdoa dilihat dari sisi manusianya adalah suatu ikhtiar. Ikhtiar yang bersifat bathiniah. Berdoa bukan saja melantunkan lafal-lafal tertentu tetapi lebih kepada 'menyelaraskan' kehendak kita kepada kehendak-Nya. Juga menyelaraskan pada sunah-Nya yaitu hukum alam yang sudah ditakdirkan-Nya.

Dalam hal ini termasuk bekerja secara amanah juga masuk dalam lingkup berdoa. Berusaha sekuat tenaga juga termasuk berdoa. Dengan catatan bahwa ada kesadaran bahwa apa yang kita lakukan adalah 'hanya' semata-mata terjadi karena kemurahan-Nya dan sekaligus hasil yang kita dapat juga semata-mata karena kemurahan-Nya.

Termasuk juga hal ini. Jika ingin diluluskan permohonannya oleh Allah maka luluskan permintaan makhluk-Nya yang sedang minta pertolongan kepada kita. Jika ingin diberi oleh Allah maka berilah makhluk-Nya. Jika ingin disayang oleh Allah maka sayangilah makhluk-Nya. Namun lagi-lagi, kita bisa memberi orang lain, menyayangi makhluk lain dan menolong orang lainpun karena semata-mata karena kasih karunia-Nya.

Ada kisah dari seorang kawan. Dia kerja sebagai penjahit di kedai jahit. Ketika berangkat kerja, di angkot ada anak-anak meminta-minta. Kebetulan semua penumpang angkot tersebut tidak ada yang mau memeri. Si kawan ini kasihan kemudian merogoh kantong bajunya. Masih ada uang tiga ribu perak, sisa ongkos angkot. Diberikannya uang tersebut kepada anak peminta sedekah ini.

Anda tahu apa yang terjadi kemudian ? Pada siang harinya ada seorang kaya yang sedang merepair pakaian di kedai jahit tempat kawan bekerja tersebut. Kebetulan kawan ini yang kena tugas melayani. Ongkos memang tidak seberapa. Namun dia memberi tips uang sebesar 150.000 rupiah kepada kawan ini. Subhanallah, menolong anak yang lagi meminta-minta dengan memberi uang hanya tiga ribu rupiah namun kontan dibalas Allah dengan uang seratus lima puluh ribu rupiah. Mungkin saja karena keikhlasan si kawan ini dalam menolong sesama makhluk Allah. Itu dari sisi manusianya. Dari sisi Allah tentu semata-mata karena sifat rahman dan rahiim-Nya.

2 comments:

Anonim mengatakan...

check backlink seo submission backlink service high quality backlinks

Anonim mengatakan...

When will you post again ? Been looking forward to this !

RELATED POST

TERIMAKASIH

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kiranya Allah memberkati Anda