Langsung ke konten utama

MENJADI SANG PENYAKSI

Penyaksi atau sering disebut 'saksi' adalah pihak yang menjadi subyek atas suatu kesaksian. Proses atas kesaksian itu sendiri disebut penyaksian.

Ada tiga tingkatan penyaksian seseorang. Pertama, si saksi melihat, mendengar dan mengalami sendiri atas apa-apa yang disaksikan. Kedua, si saksi membenarkan penyaksian orang lain karena orang tersebut menurutnya adalah orang yang benar, tidak pernah dusta dan terpercaya. Kertiga, si saksi hanya 'menjadi saksi' karena diberi tahu oleh orang lain, alis 'katanya dan katanya.'

Tentu dari ketiga macam penyaksian diatas maka yang betul-betul berhak menjadi saksi adalah orang yang mengalami proses penyaksian pertama dan kedua. Sedangkan model ketiga sangat lemah kesaksiannya.

Kesaksian dalam bahasa agama sering disebut 'syahadah'. Intinya penyaksian atau syahadah bukan sekedar 'mengaku percaya' namun lebih dari itu. Penyaksian atas kebenaran wahyu ilahi bagi manusia biasa adalah mula-mula karena mendengar ajaran guru. Ini baru pada level kesaksian yang 'katanya-katanya'. Proses selanjutnya adalah penyaksian karena 'membenarkan' apa-apa yang diterima karena tahu bahwa si Pembawa Risalah adalah benar, tiada dusta dan terbebas dari kesalahan. Pada tataran lanjut, si penyaksi membenarkan kesaksiannya karena 'merasa, mengalami dan menyaksikan' sendiri kebenaran kesaksian tersebut.

Pada tataran praktis, apakah kita sudah benar-benar menjadi penyaksi atas kebenaran Bismillahir Rohmanir Rohiim. Apakah kita sudah menjadi panyaksi atas sifat Ar- Rohmaan dan Ar-Rohiim Tuhan. Apakah kita sudah menjadi penyaksi bahwa Tuhan Allah itu benar-benar bersifat kasih dan pengasih.

Jika belum, tentu tiap kita membaca wahyu ilahi yang menerangkan bahwa Dia bersifat dan berperilaku (Af'al-Nya) Welas Asih maka hati kita masih memberontak sangsi karena kita tidak atau belum menyaksikan kebenarannya. Tetapi jika hati sudah disingkap 'penutupnya' maka ketika kita diberitahu atau membaca atau menyebut dan memanggil Allah bahawa Allah itu Rohmaan dan Rohiim maka hati kita membenarkan tiada lagi sangsi apalagi mendustakannya.

Ibarat gula. Pertama kita diberi tahu bahwa gula pasir itu warnanya putih, bentuknya butiran kristal kecil-kecil seperti pasir dan rasanya manis. Mula-mula kita percaya kepada orang yang memberi tahu. Ketika kita tanya pada si guru pemberi tahu tersebut, apakah Anda sudah pernah merasakan rasa gula, eh dia jawab bahwa dia sendiri belum pernah ketemu, melihat apalagi merasakan rasa gula.

Guru tersebut hanya menyampaikan bahwa dia bisa bercerita gegitu dan begini berdasarkan sumber yang sangat dipercaya yaitu  dari buku catatan yang ditinggalkan oleh orang yang pernah melihat dan merasakan rasa gula tersebut. Nah karena kita tahu bahwa sumbernya valid maka kesaksian kita atas gula meningkat menjadi kesaksian nomor dua yaitu kita membenarkan kesaksian orang yang pernah melihat dan merasakan gula tersebut, yang mana kemudian orang tersebut mewariskan pengalaman dan petunjuknya tentang gula itu dalam suatu buku catatan lengkap.

Jika suatu saat karena pencarian kita, maka kita berjumpa dengan gula yang dimaksud maka kita tahu rupa gula itu. Kemudian kita mencicipi gula itu, maka kita tahu rasanya. Nah pada tataran ini kita telah mengalami penyaksian langsung atas  wujud , sifat dan rasa (perilaku) gula tersebut dan sekaligus kita semakin membenarkan berita yang disampaikan oleh orang yang telah mewariskan catatan tersebut. Jika suatu saat ada orang yang bercerita bahwa gula itu rasanya pahit maka kita menolak kesaksian orang tersebut, bahkan hinga diancam penggal leherpun kita tak akan mengubah kesaksian kita bahwa gula itu manis rasanya.

Demikianlah sekedar analogi penyaksian atau syahadah. Kita menjadi saksi terhadap kebenaran atas apa-apa yang telah disampaikan Allah melalui wahyu-Nya, kitab-Nya. Dan kita juga penjadi saksi atas kebenaran Utusan-Nya yang menjadi perantara dan sekaligus menjadi contoh valid atas pelaksanaan wahyu tersebut. Semoga sholawat serta salam senantiasa dikucurkan atas beliau, Nabi Besar Muhammad beserta para nabi dan rasul lainnya ('Isa ibnu Maryam as, Ibrahim as, Musa as, Nuh as, Adam as  serta  para nabi dan rasul semuanya). Serta segala puji-puja serta syukur terimakasih bagi Allah Tuhan semesta alam.


Salam, Tiknan Tasmaun

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SELAMAT DATANG

Selamat datang dan selamat menikmati bunga rampai pemikiran penulis di bidang filsafat, analisa budaya dan sejarah, pengetahuan herbal dan beragam opini sosial budaya. Disamping blog ini untuk sharing pengetahuan dan pengalaman, di bawah ini juga penulis tampilkan daftar produk dan layanan dari penulis yang bisa diakses para pembaca yang membutuhkan. DAFTAR PRODUK HERBAL, PARFUM SPIRITUAL DAN EBOOK A. PRODUK KAMI : 1.   Ramuan komplit untuk wanita supaya menjadi 'seperti' gadis lagi, terdiri dari kapsul jamu untuk diminum dan herbal untuk gurah organ intim. Dengan  " HERBAL KEMBALI PERAWAN "  yang merupakan ramuan herbal sari rapet alami inilah yang menjadi solusi permasalahan organ kewanitaan Anda. Sangat cocok bagi gadis yang telah mengalami 'kecelakaan' maupun ibu-ibu yang mengalami organ intim longgar. Herbal ini juga sangat efektif untuk mengobati keputihan. Info lengkap silahkan lihat di  https://perawanrapetwangi.blogspot.com/2010/01/solusi-supaya-menj...

JEJAK SEJARAH DESA SAWO, DUKUN, GRESIK

RINGKASAN MAKALAH TENTANG DESA SAWO 1. TENTANG Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd  Makalah ini mendasarkan pada metodologi yang diperkenalkan oleh Dr. (HC) K.H. Ng. Adus Sunyoto, Mpd. Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd., seorang sejarawan fenomenal sekaligus Ketua Lesbumi PBNU, dikenal memiliki pandangan kritis dan khas terhadap metode pelacakan sumber sejarah di Jawa dan Nusantara. Menurut beliau, metode pelacakan sejarah di Nusantara tidak bisa disamakan begitu saja dengan metode positivisme murni ala Barat yang hanya mengakui arsip tertulis negara. Bagi Agus Sunyoto, sejarah Nusantara harus didekati secara "pribumi" (indigenos)—yaitu dengan menghargai tradisi tutur atau Folklor, toponimi (Toponimi adalah bidang ilmu linguistik yang mempelajari asal-usul, arti, dan sejarah penamaan suatu tempat atau wilayah geografis), peninggalan sosiologis, artifak dan arkeologis.    2. JEJAK SEJARAH :  2.1. MAKAM BERGAMBAR REMBULAN  Di makam Kyai Demak-an pada nisan B...

SANGKAN PARANING DUMADI : Jalan Pulang

Murid : "Guru, mohon Guru jelaskan dari mana aku berasal dan kemana aku akan pergi ?" Guru : "Sesungguhnya yang kamu tanyakan adalah 'sangkan paraning dumadi' (asal dan tujuan hidup). Atau lebih tepatnya jalan pulangmu. Ketahuilah dalam dirimu mengandung dua unsur pokok yaitu jasmanimu dan ruhaniahmu. Masing-masing mempunyai jalan pulang sendiri-sendiri Jasmanimu dicipta dari unsur alam ini. Tanah (bumi), udara (angin), api (panas) dan air. Karena asalnya dari bahan saripati alam maka kelak akan kembali ke alam lagi. Yang tanah kembali kepada tanah, yang angin kembali kepada angin, yang api kembali kepada api dan yang air akan menyatu kembali kepada air. Urut-urutannya adalah demikian. Saripati tanah, udara, panas dan air dihisap oleh tumbuhan kemudian diproses menjadi sari makanan. Tumbuhan tersebut ada yang dimakan hewan dan ada yang dimakan langsung oleh manusia. Hewan yang memakan tumbuhan itupun akhirnya juga dimakan manusia. Ahirnya saripati makanan...

Sejarah Sabdopalon Dan Syeh Subakir : PERJANJIAN LELUHUR JAWA

Ini adalah dialog imajiner antara Sabdopalon dengan Syeh Subakir di atas Gunung Tidar. Gunung Tidar adalah Gunung paku, pakunya Tanah Jawa. Juga gunung patok, patoknya Tanah Jawa. Juga disebut gunung punjer yang berarti punjer atau pusernya Tanah Jawa. Konon kisah ini tertulis dalam lontar Sunan Drajad yang masih disimpan ahli keteurunan Beliau. Hikayat ini pernah dipentaskan sebagai lakon wayang songsong di Desa Drajad, Paciran, Lamongan. Kemudian kami juga mementaskan lakon ini dalam pertunjukan wayang Tengul saat hajatan pernikahan putri kami dengan sedikit penyesuaian. Pada pementasan di rumah, kami namai lakonnya dengan Lakon : Babat Tanah Jawi - Nikahnya Kanjeng Sunan Drajad. Syeh Subakir : Kisanak, siapakah kisanak ini, tolong jelaskan.   Sabdopalon : Aku ini Sabdopalon, pamomong (penggembala)Tanah Jawa sejak jaman dahulu kala. Bahkan sejak jaman kadewatan (para dewa) akulah pamomong para kesatria leluhur. Dulu aku dikenali sebagai Sang Hyang Ismoyo Jati, lalu di...

The Four Elements of the Human Body

 The Four Elements of the Human Body The human body contains the four elements of nature, namely earth, water, fire (heat) and wind (air). All four influence human desires.  The earth element affects the desire for food and drink and the sufficiency of the body's needs.  The air element influences the human spirit to acquire worldly possessions. Even how much wealth is obtained will still feel lacking for humans. Like smoke in the air, it will continue to grow and fill the existing space.  The fire element influences the human will to be angry and defend itself against threats.  The water element influences the human spirit to be patient and accept God's fate. All four elements are important for the body. The influence on the will of the soul is also important so that humans can survive in the world. However, humans must also control these desires so that they remain within reasonable and controllable limits. If you cannot control them, you will fall into the lu...