PENULIS mengucapkan Selamat Datang serta Salam Sejahtera bagi pembaca sekalian yang budiman. Mari kita temukan solusi atas berbagai problem dalam kehidupan ini menuju hidup yang sukses, mulia, sehat, berkecukupan namun terhormat. Blog ini berisi pengalaman, pemikiran, perenungan / kontemplasi penulis sebagai hasil dari interaksi dengan para sahabat, para guru, para klien maupun hasil dari 'pembacaan' alam sebagai wujud 'ayat-ayatNya'. Semoga blog ini bermanfaat

TENTANG PENULIS

Foto saya
Gresik, Jawa Timur, Indonesia
Penulis adalah Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di rt 13/ rw o7,Sawo,Dukun,Gresik-61155. Data Diri Penulis secara lengkap bisa dilihat di Tentang Kami. Kontak penulis di no.hp: +6285850960090 atau via email ke: powerman.tiknan@gmail.com

Selasa, Juli 10, 2012

Ka'bah: Kiblat Sholat, Kiblat Hati dan Kiblat Sosial

Ada sensasi rasa yang tak tergambarkan ketika umat muslim mengunjungi Baitullah Ka'bah. Baik ketika menunaikan haji maupun umroh. Baru melihatnya saja sudah ada getar syahdu yang menelusup kalbu. Apa lagi ketika berthowaf. Semakin menjadi - jadi rasa itu ketika kita mampu menyentuhnya.



Sensasi rasa itu sulit diungkapkan. Ada rasa kerinduan kepada Sang Empunya Al-Bait / Rumah Mulia. Ada rasa kegembiraan karena terpanggil menjadi tamu-Nya di tanah suci. Ada rasa ketakjuban dan ketersungkuran di hadapan-Nya. Seribu rasa indah nan bahagia menyatu tak terperikan.

Namun, ketika pulang dari sana ada dua kiblat lagi menanti. Kiblat berikut yang menanti untuk 'dikunjungi dan didiami' adalah kiblat pribadi : hati. Hati yang selalu memohon ampunan Ilahi. Hati yang selalu berusaha mencapai 'rasa senang-Nya', keridloan-Nya. Hati yang selalu berusaha menghadap-Nya. Hati yang selalu ingat, zikir, sadar penuh terhadap-Nya. Seperti ucapan si mu'min ketika sholat : Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Wajah Sang Pencipta langit dan bumi.

Sedangkan kiblat satunya lagi adalah kiblat sosial. Mengapa demikian ? Karena pada hakekatnya, Sang Utusan diutus ke bumi ini dengan tujuan akhir adalah menyempurnakan akhlak umat. Efek segala peribadahan pribadi adalah perbaikan akhlak yang diharapkan tercapai. Ahklak ini, disamping akhlak kepada Tuhan Ilahi Robbi, juga adalah akhlak kepada sesama makhluk sebagai manifestasi akhlak kita kepada-Nya. Jika ada tetanggga, kawan dan sanak saudara yang memerlukan uluran tangan kita sekedar untuk berbagi rasa maupun pertolongan, maka itu adalah kesempatan kita bertemu dengan-Nya melalui peribadahan sosial. Itulah kiblat sosial.

Salam, Tiknan Tasmaun

0 comments:

RELATED POST

TERIMAKASIH

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kiranya Allah memberkati Anda