PENULIS mengucapkan Selamat Datang serta Salam Sejahtera bagi pembaca sekalian yang budiman. Mari kita temukan solusi atas berbagai problem dalam kehidupan ini menuju hidup yang sukses, mulia, sehat, berkecukupan namun terhormat. Blog ini berisi pengalaman, pemikiran, perenungan / kontemplasi penulis sebagai hasil dari interaksi dengan para sahabat, para guru, para klien maupun hasil dari 'pembacaan' alam sebagai wujud 'ayat-ayatNya'. Semoga blog ini bermanfaat

TENTANG PENULIS

Foto saya
Gresik, Jawa Timur, Indonesia
Penulis adalah Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di rt 13/ rw o7,Sawo,Dukun,Gresik-61155. Data Diri Penulis secara lengkap bisa dilihat di Tentang Kami. Kontak penulis di no.hp: +6285850960090 atau via email ke: powerman.tiknan@gmail.com

Selasa, Januari 22, 2013

Mendidik Anak : Sembahyang Itu Keperluan

Sembahyang itu harus ya Pak ? Tuhan marah ya jika adik nggak sholat ? Tiba-tiba si bungsu, masih lingkungan umur tujuh tahunan, bertanya sebuah pertanyaan yang cukup mengusik hati. Bahkan bukan hanya mengusik hati, tetapi cukup memeras otak untuk menjawabnya. 

Agak susah menjawabnya. Karena saya tahu anak ini cukup kritis. Mungkin anak Anda juga pada kritis juga pemikirannya, rata-rata anak sekarang demikian. Jika saya jawab, ya Allah akan marah jika kita tidak sholat, khawatir dia malah berfikir bahwa Dia itu egois atau ‘membutuhkan’ sholat kita. Jika jawaban saya tidak tepat, takutnya anak ini akan membayangkan bahwa Allah itu bagai raja yang kejam yang selalu minta dilayani, membutuhkan ‘pelayanan’ rakyatnya.

Untuk ‘ngeles’ (menghindar sementara) saya suruh dia mandi. Kebetulan waktu sedang mendekati asar. Sebentar lagi dia akan pergi ke TPQ untuk belajar membaca Qur’an. “Malas Pak, gak usah mandi ah, nanti terus berangkat ngaji saja”. Ibunya menyambung, “Kalau begitu makan dulu, dari pulang sekolah tadi kamu main terus, belum makan siang.” Eh, anak ini membantah lagi, “Gak lapar Bu”. Tidak lama kemudian dia berganti pakaian dan berangkat ke TPQ. 

Sepulang dari TPQ, si anak ini mengadu sama ibunya. “Bu, tadi di tepeqi perutku lapar banget, sampai aku nangis menahannya. Belum lagi badan rasanya gerah sekali. Lagian aku ‘digojloki’ kawan-kawan katanya badanku bau, ah reseh itu orang”, kata anakku mengadu. Mendengar itu langsung aku punya ide menjawab pertanyaannya siang tadi. Tapi saya simpan dulu. Menunggu dia selesai mandi dan makan. Setelah semuanya selesai dan keadaannya segar lagi, baru pelan-pelan kujawab pertanyaannya tadi. 

Inti dari jawaban saya adalah bahwa sembahyang atau sholat itu adalah kebutuhan manusianya. Saya bilang itu kebutuhan kamu sendiri. ( Memang dia belum terkena hukum wajib untuk sholat, belum akil balik. Tapi tentu penting untuk diberi pengertian dasar tentang sembahyang.) Saya terangkan, sama dengan makan dan mandi tadi. Bapak dan ibu menyuruh kamu makan dan mandi bukan demi kepentingan bapak dan ibu. Tapi demi kepentingan kamu. Kamu disuruh mandi biar badan kamu bersih, tidak gatal, tidak gerah dan sehat. Kamu disuruh makan biar kamu kenyang dan sehat. Sembahyang juga begitu. Itu kebutuhan kita. Kebutuhan bapak, ibu dan kamu juga. Dengan sembahyang kita bisa mengucap terimakasih kepada Allah. Dengan sembahyang juga kita bisa meminta keperluan kita kepada Allah. 

 “Tapi Pak, aku gak ngerti bahasa Arab, gimana dong aku meminta kepada Allah ?” , tanya anakku. Aku jawab, “Gampang, pokonya ikuti saja sembahyang Bapak. Nah waktu sujud dalam hati kamu bilang saja, terimakasih ya Allah. Waktu kamu duduk, bilang saja, aku minta ampun, minta disayang Allah, minta senantiasa sehat, minta rejeki dan minta cerdas dan ilmu” “Pak, aku pingin mainan ’skyboard’ kayak yang ada di tipi-tipi itu, boleh aku minta sama Tuhan ?”, tanya dia. Aku jawab, tentu boleh karena itu juga rejeki. “Wah kalau begitu aku mau memintakan juga untuk Bapak supaya dikasih Allah mobil,” katanya. Aku sahuti saja “Amiin,amiin,amiin”.

1 comments:

Anonim mengatakan...

Siiippp,...
Manyab Gan...!!!!!!

RELATED POST

TERIMAKASIH

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kiranya Allah memberkati Anda