Langsung ke konten utama

Tuntutan Harga Serba Murah, Provokasi ?

Saya ingat artikel yang pernah saya baca, merupakan buah pemikiran Gus Dur, tentang ekonomi negara. Namun saya lupa saya membaca di majalah apa. Waktu itu belum jamannya majalah online. Menurut Gus Dur, bukan masalah mahal murahnya harga beras yang jadi problem, namun daya beli masyarakat itu yang penting. Penulis juga berpikir, kadang politisi berteriak harga pangan mahal, harus diturunkan, kayaknya ada bau - bau  'provokasi' terhadap pemerintah.



Sama seperti susahnya tataniaga beras misalnya. Atau jagung. Atau produk pangan lainnya. Termasuk telor ayam. Ada politisi kemarin-kemarin berteriak minta kepada pemerintah untuk menurunkan harga telor hingga 11 ribu rupiah. Nah, belakangan harga telor pernah anjlok beneran, walau tidak sampai seanjlok harga tersebut. Apa yang terjadi ? Ya pasti emak-emak peternak ayam pada kelimpungan. Nggak nyucuk antara biaya produksi dengan hasilnya.

Demikian juga dengan harga komoditas jagung. Pihak petani jagung akan relatif mendapat keuntungan jika harga stabil pada kisaran 4 ribu hingga 5 ribu rupiah. Kalau harga anjlok dibawah 4.000 rupiah, alamat petani kelimpungan. Jadi yang diperlukan disini adalah keseimbangan harga dan sekaligus peningkatan daya beli masyarakat.

So, jadi politisi jangan sampai asal dapat panggung, kemudian bisanya bicara ngasal saja. Contoh sekarang ini. Harga pakan ternak memang lagi mahal karena stok jagung yang memang lagi kurang melimpah. Tapi jangan provokasi pemerintah untuk menurunkan dengan instan. Bisa-bisa larinya nanti impor . Kalau sudah impor, wah, padahal satu bulan lagi diperkiran produk jagung dalam negeri mulai panen. Bisa-bisa harga anjlok nanti. Petani kelimpungan. Situasi sospol menjelang pemilu. Akhirnya pemeritah digoreng lagi sebagai pihak yang gak becus.

Jangan juga dibandingkan jaman orba. Jaman orba dulu memang harga pangan relatif murah. Namun petani tidak bisa kaya. Harga komoditas senantiasa ditekan. Daya beli masyarakat juga tidak tinggi, Hanya saja waktu itu subsidi digelontorkan dalam segala bidang. Akhirnya beban negara juga yang keberatan.

Sebagai penutup, mohon-mohonlah jangan mentang - mentang jadi politisi, apapun dipoltisir. Ketemu emak - emak di pasar, bilang harga mahal, harus dimurahkan. Giliran ketemu peternak, bilang harga terlalu murah, harus dinaikkan. Kan jadinya ibarat pepatah 'pagi kedelai sore tempe'. Nanti bisa kebalik jadi kutukan buat diri sendiri. Bagaimana pendapat anda ?

Salam, Tiknan Tasmaun

Komentar

  1. Bagi pembaca via laptop atau kompi desktop, Anda bisa kasih komen melalui kolom komentar ini.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SELAMAT DATANG

Selamat datang dan selamat menikmati bunga rampai pemikiran penulis di bidang filsafat, analisa budaya dan sejarah, pengetahuan herbal dan beragam opini sosial budaya. Disamping blog ini untuk sharing pengetahuan dan pengalaman, di bawah ini juga penulis tampilkan daftar produk dan layanan dari penulis yang bisa diakses para pembaca yang membutuhkan. DAFTAR PRODUK HERBAL, PARFUM SPIRITUAL DAN EBOOK A. PRODUK KAMI : 1.   Ramuan komplit untuk wanita supaya menjadi 'seperti' gadis lagi, terdiri dari kapsul jamu untuk diminum dan herbal untuk gurah organ intim. Dengan  " HERBAL KEMBALI PERAWAN "  yang merupakan ramuan herbal sari rapet alami inilah yang menjadi solusi permasalahan organ kewanitaan Anda. Sangat cocok bagi gadis yang telah mengalami 'kecelakaan' maupun ibu-ibu yang mengalami organ intim longgar. Herbal ini juga sangat efektif untuk mengobati keputihan. Info lengkap silahkan lihat di  https://perawanrapetwangi.blogspot.com/2010/01/solusi-supaya-menj...

JEJAK SEJARAH DESA SAWO, DUKUN, GRESIK

RINGKASAN MAKALAH TENTANG DESA SAWO 1. TENTANG Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd  Makalah ini mendasarkan pada metodologi yang diperkenalkan oleh Dr. (HC) K.H. Ng. Adus Sunyoto, Mpd. Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd., seorang sejarawan fenomenal sekaligus Ketua Lesbumi PBNU, dikenal memiliki pandangan kritis dan khas terhadap metode pelacakan sumber sejarah di Jawa dan Nusantara. Menurut beliau, metode pelacakan sejarah di Nusantara tidak bisa disamakan begitu saja dengan metode positivisme murni ala Barat yang hanya mengakui arsip tertulis negara. Bagi Agus Sunyoto, sejarah Nusantara harus didekati secara "pribumi" (indigenos)—yaitu dengan menghargai tradisi tutur atau Folklor, toponimi (Toponimi adalah bidang ilmu linguistik yang mempelajari asal-usul, arti, dan sejarah penamaan suatu tempat atau wilayah geografis), peninggalan sosiologis, artifak dan arkeologis.    2. JEJAK SEJARAH :  2.1. MAKAM BERGAMBAR REMBULAN  Di makam Kyai Demak-an pada nisan B...

SANGKAN PARANING DUMADI : Jalan Pulang

Murid : "Guru, mohon Guru jelaskan dari mana aku berasal dan kemana aku akan pergi ?" Guru : "Sesungguhnya yang kamu tanyakan adalah 'sangkan paraning dumadi' (asal dan tujuan hidup). Atau lebih tepatnya jalan pulangmu. Ketahuilah dalam dirimu mengandung dua unsur pokok yaitu jasmanimu dan ruhaniahmu. Masing-masing mempunyai jalan pulang sendiri-sendiri Jasmanimu dicipta dari unsur alam ini. Tanah (bumi), udara (angin), api (panas) dan air. Karena asalnya dari bahan saripati alam maka kelak akan kembali ke alam lagi. Yang tanah kembali kepada tanah, yang angin kembali kepada angin, yang api kembali kepada api dan yang air akan menyatu kembali kepada air. Urut-urutannya adalah demikian. Saripati tanah, udara, panas dan air dihisap oleh tumbuhan kemudian diproses menjadi sari makanan. Tumbuhan tersebut ada yang dimakan hewan dan ada yang dimakan langsung oleh manusia. Hewan yang memakan tumbuhan itupun akhirnya juga dimakan manusia. Ahirnya saripati makanan...

Sejarah Sabdopalon Dan Syeh Subakir : PERJANJIAN LELUHUR JAWA

Ini adalah dialog imajiner antara Sabdopalon dengan Syeh Subakir di atas Gunung Tidar. Gunung Tidar adalah Gunung paku, pakunya Tanah Jawa. Juga gunung patok, patoknya Tanah Jawa. Juga disebut gunung punjer yang berarti punjer atau pusernya Tanah Jawa. Konon kisah ini tertulis dalam lontar Sunan Drajad yang masih disimpan ahli keteurunan Beliau. Hikayat ini pernah dipentaskan sebagai lakon wayang songsong di Desa Drajad, Paciran, Lamongan. Kemudian kami juga mementaskan lakon ini dalam pertunjukan wayang Tengul saat hajatan pernikahan putri kami dengan sedikit penyesuaian. Pada pementasan di rumah, kami namai lakonnya dengan Lakon : Babat Tanah Jawi - Nikahnya Kanjeng Sunan Drajad. Syeh Subakir : Kisanak, siapakah kisanak ini, tolong jelaskan.   Sabdopalon : Aku ini Sabdopalon, pamomong (penggembala)Tanah Jawa sejak jaman dahulu kala. Bahkan sejak jaman kadewatan (para dewa) akulah pamomong para kesatria leluhur. Dulu aku dikenali sebagai Sang Hyang Ismoyo Jati, lalu di...

The Four Elements of the Human Body

 The Four Elements of the Human Body The human body contains the four elements of nature, namely earth, water, fire (heat) and wind (air). All four influence human desires.  The earth element affects the desire for food and drink and the sufficiency of the body's needs.  The air element influences the human spirit to acquire worldly possessions. Even how much wealth is obtained will still feel lacking for humans. Like smoke in the air, it will continue to grow and fill the existing space.  The fire element influences the human will to be angry and defend itself against threats.  The water element influences the human spirit to be patient and accept God's fate. All four elements are important for the body. The influence on the will of the soul is also important so that humans can survive in the world. However, humans must also control these desires so that they remain within reasonable and controllable limits. If you cannot control them, you will fall into the lu...