Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2019

SEJARAH SEDEKAH BUMI

Orang Jawa  menyebut leluhurnya yang paling tua dengan sebutan Mbah Cikal Bakal. Bahkan pada jaman dahulu orang Jawa menyebutnya Dang Yang. Beliaulah yang dahulu kala membuka hutan menjadi desa. Selanjutnya beliau mempunyai anak cucu. Mbah Buyut Cikal Bakal mempunyai rumah disebut Pepunden ( karena dipundi-pundi, dihormati) dan beliau akan menjadi Lurah atau orang yang dituakan di desa tersebut Anak cucu Mbah Cikal Bakal semakin hari semakin bertamba banyak. Setiap tahun sekali para anak cucu ini sowan ke rumah Mbah Cikal Bakal. Hal ini disebut srodo. Biasanya para amak cucu ini membawakan makanan (cinjo,bhs Jw) untuk diberikan sebagai oleh – oleh kepada si Mbah Buyut ini. Bahkan juga bergembira ria dengan mengadakan tontonan. Ada yang wayang kulit, sandur, klonengam atau tayuban dan lain-lain sesuai kesukaan mereka. Khusus untuk tayub ini juga mempunyai filosofi tersendiri. Tayub berasal dari kata To Yub yang artinya ditoto supoyo guyub ( diatur supaya rukun – bergotong royong )...