Yang penulis bicarakan di sini bukanlah dalam hal apakah puasa kita diterima Allah atau tidak. Karena mengenai diterima atau ditolaknya amalan anak Adam hanya mutlak hak prerogratif Allah AWT, Tuhan seru sekalian alam. Yang penulis maksudkan adalah, apakah puasa kita ini sudah ada efektifitasnya terhadap peningkatan kerohanian kita. Apakah kepekaan sosial kita sudah menjadi lebih meningkat atau justru menurun. Apakah nurani kita menjadi lebih terasah atau justru tenggelam oleh nafsu makan minum saat berbuka sebagai 'akibat dendam lapar dan haus' seharian suntuk. Ataukah puasa kita ini, jangan-jangan seperti yang diperingatkan Kanjeng Nabi SAW, hanya mendapat lapar dan haus belaka. Kita melihat dari pekabaran di berbagai hikayat, bahwa sudah menjadi kelaziman bagi para nabi, rasul, wali, dan orang suci menjalani 'laku tirakat' berupa puasa dengan versi masing-masing. Mereka melakukan ini untuk mencapai peningkatan kualitas kerohanian mereka. Kanjeng Nabi Muhammad SAW se...
"Menuju hidup sukses dan mulia", Tentang Kehidupan, Motivasi, Methafisika, Falsafah Hidup, Sosial Budaya Dan Sastra