Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

GEGARANING WONG AKRAMI : Modal Persyaratan Berumah-Tangga

Ada satu Tembang Jawa katagori Macapat yang berjenis Asmaradana , dengan judul Gegaraning Wong Akrami mengandung ajaran pitutur tentang syarat berumah tangga. Penulis kurang bisa memastikan siapa penggubah tembang tersebut, namun kemungkinan besar adalah R. Ng. Rongggo Warsito alias Kiyahi Burhan. Jikapun bukan beliau ada kemungkinan besar adalah eyang beliau Raden Ngabei Yosodipuro. Berikut syair tembang Gegaraning Wong Akrami : "Gegaraning wong akram i Dudu bandha dudu rup a Amung ati pawitan é Luput pisan kena pis an Lamun gampang luwih gamp ang Lamun angèl, angèl kalangk ung Tan kena tinumbas art a " Terjemahan bebas dalam  Bahasa Indonesia demikian : "Syarat / modal orang membangun rumah tangga, Bukan harta bukan rupa, Hanya hati bekalnya, Gagal sekali itu berhasil ya sekali itu, Jika mudah maka sangatlah mudah, Jika sukar maka teramat sukar, Tidak bisa dibeli dengan uang (kebahagiaan rumah tangga tersebut". Kita perhatikan wejangan ...

SABDOPALON-NOYOGENGGONG, Sudah Saatnya Dia Datang ?

Konon ada legenda. Bahwa pengasuh Prabu Brawijaya Terakhir yang bernama Sabdopalon Noyogenggong sebelum ‘mukswa’ memberikan sumpahan. Bahwa jika Masyarakat Jawa ( baca Nusantara) sudah terlalu lupa diri, lupa akar kesejarahannya, lupa akar budayanya, maka Beliau akan datang untuk ‘membersihkan’ Tanah Jawa / Nusantara. Alkisah Sabdopalon Noyogenggong adalah pamomong satria Tanah Jawa. Dipercaya bahwa Dia adalah penjelamaan Ki lurah Semar Bodronoyo alias Sang Hyang Ismoyo Jati. Dialah yang menkentuti para gunung di Tanah Jawa sehingga terjadi kawah-kawah sebagai media gunung-gung berapi itu mengeluarkan uap panasnya sehingga tidak terjadi peletusan gunung. Terakhir kali sebelum ‘mukswa’ Dia menjadi pamomong Raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya ke-5. Namun sejatinya saya berharap akan datangnya sabdopalon-sabdopalon, noyogenggong-noyogenggong, ratu adil-ratu adil baru yang banyak jumlahnya. Bukan sabdopalon, noyogenggong maupun ratu adil legenda. Tapi rindu akan kehad...

DAHLAN ISKAN : Si Profesional Yang Juga Santri

Anda pasti minimal pernah dengar nama Dahlan Iskan. Ya beliau sekarang adalah Menteri Negara BUMN. Sebelum menjabat Meneg BUMN, beliau menjabat Dirut PLN yang tidak mau menerima gaji dan fasilitas kantor. Benar-benar manusia langka di jaman sekarang. Pada jaman yang bahkan sudah diramal oleh R. Ng. Ronggowarsito sebagai jaman edan ini, ternyata masih ada orang yang bekerja tanpa pamrih pribadi. Dahlan Iskan adalah seorang santri bahkan ‘calon’ kiyai di pesantrennya. Namun karena sikap tawadlu’-nya (karena merasa dari jalur Ibu) maka beliau memilih ‘mbalelo’ yaitu hijrah profesi menjadi wartawan. Seorang wartawan yang jujur. Bahkan rela berjalan kaki karena kekurangan ongkos bis kota. Beliau tidak pernah mau menerima ‘amplop’ atau sangu dari narasumber. Di tangan Dahlan Iskan, Jawa Pos yang dahulunya ‘hidup segan mati tak mau’ akhirnya menjadi raksasa surat kabar setanding bahkan melebihi para pesaing-pesaingnya yang lebih dahulu eksis. Ketika beliau dipercaya memimpin perusahaan plat m...