Matahari menyengat dengan garangnya seakan hendak membakar apa saja di bumi. Tanah pecah - pecah. Menderita. Semenderita Pak Tua yang sedang berjalan gontai sambil disoraki anak-anak kampung : “Orang gila…orang gila…” . Oh bukan, bukan menderita. Dia orang yang sangat bahagia malah. Satu kampung orang tak tahu namanya. Juga tak tahu asal - usulnya. Hanya tiap ada kematian warga, selalu dia hadir. Bahkan sebelum diumumkan di pengeras masjidpun dia sudah hadir lebih dulu di ‘calon’ rumah duka atau di kuburan. Mengapa disebut ‘calon rumah duka’ ? Karena kadang dia hadir di rumah seseorang yang seisi rumah itu sehat wal afiat. Namun tak lama baru tersiar kabar kematian dari rumah tersebut secara mendadak. Seakan dia tahu bahwa akan ada warga rumah tersebut yabng akan menghadap Ilahi. Mulutnya senantiasa menyerocos tak karuan. Kadang tertawa sendiri. Kadang menangis. Pakaian yang dipakai sudah lusuh namun ada kesan terjaga kebersihannya. Pun orang satu kampung tak ada yang tahu bagaimana ca...
"Menuju hidup sukses dan mulia", Tentang Kehidupan, Motivasi, Methafisika, Falsafah Hidup, Sosial Budaya Dan Sastra