Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Perawan oh Perawan

Di masyarakat kita pada umumnya masih sangat menjunjung tinggi keperawanan. Diyakini secara mithos bahwa keperawanan seseorang ditandai dengan keluarnya darah perawan saat pertamakali melakukan coitus , yaitu pada malam pertama pengantin. Lalu bagaiman dengan sesorang yang karena hymennya robek karena kecelakaan atau karena olah raga, yang tentu saja sudah tak akan mengeluarkan darah lagi saat malam pertama, apakah dia dianggap sudah tidak perawan ? Tentu saja tidak demikian bukan ? Masalahnya biasanya si suami – karena mithos tadi- lalu menganggap istrinya sudah tidak suci lagi. Belum lagi bagi para perempuan korban kejahatan seksual, mereka kehilangan keperawanan bukan karena ‘maunya’, tetapi karena paksaan. Tentu dalam hal ini sebanding dengan kehilangan keperawanan yang disebabkan kecelakaan. Karena itu para lelaki haruslah arif dalam menyikapi hal ini. Hata, sekalipun bagi perempuan yang sudah tidak gadis lagi karena ‘keterlanjuran’ dengan pacarnya, misalnya, ba...

Apakah Wanita Yang Bersuami Masih Ber-MASTURBASI ?

Ini ada hasil penelitian yang sangat mengejutkan. Seorang profesor seksologi, Debby Herbenick , sebagai profesor dan pengajar bidang seks di Kinsey Institute dan Indiana University di Bloomington, menururkan fakta menghebohkan. Yaitu bahwa sebagian wanita yang sudah bersuami ternyata juga suka melakukan masturbasi ( tentunya wanita Amerika karena penelitiannya di sana, namun tidak menutup kemungkinan juga hal yang sama berlaku di sini). Bahkan menurut sang profesor ini, wanita bersuami yang suka bermasturbasi lebih mudah mencapai orgasme ketimbang yang tidak pernah bermasturbasi. Disamping hal tersebut masih ada lagi beberapa penemuan yang mengejutkan, yaitu antara lain : Mitos 1: Pria tidak bisa berbuat orgasme palsu. Fakta benar : Priapun bisa berorgasme palsu( pura-pura orgasme). ”Tentu saja mereka bisa dan mereka melakukan hal itu,” tuturnya. Penelitian dari Kansas University menunjukkan, 25 persen pria mengaku bahwa mereka sering berpura-pura orgasme, bahkan sebagian saat ...

IKHLAS dalam bersedekah : bagaikan Buang Air Besar

Untuk mencapai ikhlas khususnya dalam bersedekah dan juga berbagai amaliah yang mudah menimbulkan rasa bangga maka Baginda Nabi Muhammad mengajarkan bahwa jika tangan kanan kita memberi maka tangan kiri kita jangan sampai tahu. Bukankah itu suatu pekerjaan yang sulit ? Ya betul karena perilaku ikhlas itu perilaku hati. Bahkan ikhlas itu adalah rahasia antara kita denmgan Tuhan. Lain orang tidak akan tahu. Dalam hal ini maka agak lebih mudah bagi kita membayangkan jika kita bersedekah maka bagaikan orang buang air besar (BAB) saja. Coba mari kita perbandingkan. Adakah diantara kita yang menyesal setelah BAb ? Tentu gak bakalan ada. Bahkan terasa lega. Hatta ketika kita habis makan sate atau durianpun kita nggak sayang untuk membuangnya lagi dalam bentuk BAB. Tidak terbersitpun rasa ‘sayang atau eman’ terhadap makanan yang betapapunmahal dan enaknya yang kita makan untuk kita buang melalui BAB. Perhatikan juga bahwa tidak ada diantara kita yang sudi mengingat-ingat BAB kita. Lepas-...

MENCAPAI IMAN DAN YAKIN : Berguru Kepada Anak - Anak

Ada satu fenomena yang sangat menarik dalam kehidupan sehari-hari. Kita perhatikan anak-anak. Mereka masih polos dan sangat percaya kepada orang dewasa terutama orang tuanya dan gurunya. Entah guru tk atau guru ngajinya. Hatta sekalipun dibohongi orang dewasa mereka tetap haqqul yakin. Ketika orang tuanya melarang mereka bermain ke tempat sepi, misalnya di belakang rumah, denganmengatakan : "Jangan bermain sendiri di situ karena di situ ada hantunya", misalnya, maka si anak akan percaya seratus persen. Dikasih tau apa saja maka mereka percaya. Asal yang ngasih tau adalah orang tua atau gurunya. Berbalik seratus delapan puluh derajat dengan kita orang dewasa. Kita dikasih tau oleh Tuhan kita melalui Kitab Suci. Kita dikasih tau oleh Nabi kita melalui catatan atau riwayat hadis. Namun betapa kita malah sering mempertanyakan. Betapa akal kita sulit menerima dan percaya begitu saja seperti percayanya anak-anak. Dalam hal mempercayai kebenaran yang bersifat ghaib sert...