Langsung ke konten utama

Doa Bil Isyarah Dalam Tradisi Jawa

Doa bil isyarah. Apa artinya ? Yang saya maksudkan dengan doa bil isyarah adalah berdoa dengan diwujudkan dalam berbagai perlambang dan tingkah laku dalam kehidupan. Contoh yang nyata adalah orang bekerja. Bekerja pekerjaan apa saja, tentu pekerjaan yang baik dalam arti yang sebenarnya. Dalam bahasa agama disebut dengan terminologi pekerjaan yang halal. Bekerja jika diniati yang benar maka merupakan suatu perwujudan dari doa dengan perbuatan nyata.

Dalam tradisi Jawa banyak kita jumpai upacara-upacara adat yang sebenarnya merupakan doa bil isyarah, doa dengan wujud perlambang atau sanepan. Misalnya ketika ada orang hajadan 'mantenan' (mengwinkan) anaknya misalnya. Bagi orang Jawa maka tidak akan ketinggalan pasti ada daun janur, daun beringin dan juga batang tebu. Itu semua merupakan ungkapan doa dan harapan kepada Allah swt, Gusti Kang Akaryo Jagad.

Janur di'kirotobosokan' dengan kata 'ngejan-ngejan' (arep-arep=berharap) sedangkan Nur artinya cahaya. Maknanya berharap akan kemuliaan yang merupakan berkah dari Ilahi kepada pengantin berdua. Janur juga sebagai simbul kelapa, dalam hal ini cengkir yang berarti ngencengke pikir atau membulatkan tekad. Artinya bagi mempelai berdua diharapkan untuk membulatkan tekad untuk mengarungi kehidupan baru. Tebu dimaknai antebing kalbu. Artinya juga sama, ketekadan yang bulat.

Selamatan Mitoni atau Tingkeban Orang Hamil

Secara umum selamatan mitoni atau ningkebi orang hamil dilaksanakan ketika kehamilan sudah menginjak usia tujuh bulan. Persediaan yang harus ada adalah tumpeng, procot, bubur merah putih atau disebut bubur sengkolo, sego (nasi) golong, rujak sepet ( dari sepet sabut kelapa muda ), cengkir gading dll.

Semua 'uborampe' tersebut juga merupakan doa bil isyaroh, doa dengan perlambang. Perlambang-perlambang itu antara lain sebagai berikut :

Tumpeng. 

Tumpeng atau buceng merupakan nasi yang dibentuk menyerupai kerucut, membentuk seakan-akan gunung kecil. Ini merupakan lambang permohonan keselamatan. Bagi masyarakat Jawa gunung melambangkan kekokohan, kekuatan dan keselamatan.

Procot

Sejenis penganan terbuat dai ketan yang dibungkus daun pisang bulat memanjang. Dinamakan dengan procot dengan harapan lahirnya si bayi kelak 'procat-procot', mudah maksudnya.

Bubur sengkolo

Bubur sengkolo itu merupakan bubur dengan warna merah dan putih. Merupakan lambang dari bibit asal-muasal kejadian manusia selepas Bapa Adam dan Ibu Hawa, yaitu diciptakan Allah melalui perantaraan darah merah dan darah putih dari ibu bapak kita. Harapan dari bubur sengkolo adalah mudah-mudahan yang punya hajad itu 'kalis ing sambikolo' terlepas dari segala aral bahaya, baik bayinya maupun keluarganya.

Sego atau nasi golong

Sego golong merupakan doa agar rejekinya 'golong-golong' artinya banyak berlimpah ruah.

Rujak

Dari kirotobosonya menimbulkan arti 'saru yen diajak' artinya tidak patut lagi kalau si istri yang lagi hamil tua itu diajak 'ajimak-saresmi' lagi demi menjaga si jabang bayi dalam kandungan.

Cengkir

Ngencengake pikir artinya membulatkan tekad untuk kelak menyambut kehadiran sang anak yang merupakan 'titipan Ilahi'. Tekad untuk apa saja ? Ya tekad untuk memelihara dan mendidik hingga menjadi anak yang berbudi pekeri luhur

Demikianlah serba sedikit tentang berbagai tradisi yang masih hidup pada masyarakat Jawa. Semua itu ternyata merupakan doa dengan kiasan perlambang atau doa bil isyarah. Jadi jangan cepat-cepat memfonis tahayul dan sebagainya. Karena para leluhur Jawa dahulu memang penuh kehalusan dalam 'pasemon' untuk mengungkapkan isi hati. Dari sifat itulah yang kemudian banyak menghasilkan berbagai hasil budaya yang adiluhung misalnya karya batik, wayang kulit, berbagai tembang dan lain sebagainya.

Salam, Tiknan Tasmaun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JEJAK SEJARAH DESA SAWO, DUKUN, GRESIK

RINGKASAN MAKALAH TENTANG DESA SAWO 1. TENTANG Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd  Makalah ini mendasarkan pada metodologi yang diperkenalkan oleh Dr. (HC) K.H. Ng. Adus Sunyoto, Mpd. Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd., seorang sejarawan fenomenal sekaligus Ketua Lesbumi PBNU, dikenal memiliki pandangan kritis dan khas terhadap metode pelacakan sumber sejarah di Jawa dan Nusantara. Menurut beliau, metode pelacakan sejarah di Nusantara tidak bisa disamakan begitu saja dengan metode positivisme murni ala Barat yang hanya mengakui arsip tertulis negara. Bagi Agus Sunyoto, sejarah Nusantara harus didekati secara "pribumi" (indigenos)—yaitu dengan menghargai tradisi tutur atau Folklor, toponimi (Toponimi adalah bidang ilmu linguistik yang mempelajari asal-usul, arti, dan sejarah penamaan suatu tempat atau wilayah geografis), peninggalan sosiologis, artifak dan arkeologis.    2. JEJAK SEJARAH :  2.1. MAKAM BERGAMBAR REMBULAN  Di makam Kyai Demak-an pada nisan B...

SELAMAT DATANG

Selamat datang dan selamat menikmati bunga rampai pemikiran penulis di bidang filsafat, analisa budaya dan sejarah, pengetahuan herbal dan beragam opini sosial budaya. Disamping blog ini untuk sharing pengetahuan dan pengalaman, di bawah ini juga penulis tampilkan daftar produk dan layanan dari penulis yang bisa diakses para pembaca yang membutuhkan. DAFTAR PRODUK HERBAL, PARFUM SPIRITUAL DAN EBOOK A. PRODUK KAMI : 1.   Ramuan komplit untuk wanita supaya menjadi 'seperti' gadis lagi, terdiri dari kapsul jamu untuk diminum dan herbal untuk gurah organ intim. Dengan  " HERBAL KEMBALI PERAWAN "  yang merupakan ramuan herbal sari rapet alami inilah yang menjadi solusi permasalahan organ kewanitaan Anda. Sangat cocok bagi gadis yang telah mengalami 'kecelakaan' maupun ibu-ibu yang mengalami organ intim longgar. Herbal ini juga sangat efektif untuk mengobati keputihan. Info lengkap silahkan lihat di  https://perawanrapetwangi.blogspot.com/2010/01/solusi-supaya-menj...

Sejarah Sabdopalon Dan Syeh Subakir : PERJANJIAN LELUHUR JAWA

Ini adalah dialog imajiner antara Sabdopalon dengan Syeh Subakir di atas Gunung Tidar. Gunung Tidar adalah Gunung paku, pakunya Tanah Jawa. Juga gunung patok, patoknya Tanah Jawa. Juga disebut gunung punjer yang berarti punjer atau pusernya Tanah Jawa. Konon kisah ini tertulis dalam lontar Sunan Drajad yang masih disimpan ahli keteurunan Beliau. Hikayat ini pernah dipentaskan sebagai lakon wayang songsong di Desa Drajad, Paciran, Lamongan. Kemudian kami juga mementaskan lakon ini dalam pertunjukan wayang Tengul saat hajatan pernikahan putri kami dengan sedikit penyesuaian. Pada pementasan di rumah, kami namai lakonnya dengan Lakon : Babat Tanah Jawi - Nikahnya Kanjeng Sunan Drajad. Syeh Subakir : Kisanak, siapakah kisanak ini, tolong jelaskan.   Sabdopalon : Aku ini Sabdopalon, pamomong (penggembala)Tanah Jawa sejak jaman dahulu kala. Bahkan sejak jaman kadewatan (para dewa) akulah pamomong para kesatria leluhur. Dulu aku dikenali sebagai Sang Hyang Ismoyo Jati, lalu di...

SANGKAN PARANING DUMADI : Jalan Pulang

Murid : "Guru, mohon Guru jelaskan dari mana aku berasal dan kemana aku akan pergi ?" Guru : "Sesungguhnya yang kamu tanyakan adalah 'sangkan paraning dumadi' (asal dan tujuan hidup). Atau lebih tepatnya jalan pulangmu. Ketahuilah dalam dirimu mengandung dua unsur pokok yaitu jasmanimu dan ruhaniahmu. Masing-masing mempunyai jalan pulang sendiri-sendiri Jasmanimu dicipta dari unsur alam ini. Tanah (bumi), udara (angin), api (panas) dan air. Karena asalnya dari bahan saripati alam maka kelak akan kembali ke alam lagi. Yang tanah kembali kepada tanah, yang angin kembali kepada angin, yang api kembali kepada api dan yang air akan menyatu kembali kepada air. Urut-urutannya adalah demikian. Saripati tanah, udara, panas dan air dihisap oleh tumbuhan kemudian diproses menjadi sari makanan. Tumbuhan tersebut ada yang dimakan hewan dan ada yang dimakan langsung oleh manusia. Hewan yang memakan tumbuhan itupun akhirnya juga dimakan manusia. Ahirnya saripati makanan...

Tentang SERAT WIRID HIDAYAT JATI

Selayang Pandang, Buku (kitab) Serat Wirid Hidayat Jati adalah buku yang ditulis oleh R.Ng. Ronggo Warsito (Kiyahi Ageng Burhan). Penulis tidak mendapatkan buku aslinya, namun penulis mendapat warisan buku tulisan tangan dari Almarhum Kakek. Menurut penuturan beliau, beliau sendirilah yang menyalin tulisan tersebut dari buku aslinya yang tertulis dalam aksara Jawa ke dalam tulisan beraksara Latin. Pada pembukaan (Kata Pengantar) buku tersebut, tertulis nama Raja Solo, Pangeran R. Soewono Sosro Mangkoe Negoro Sambernyowo (Gerak III). Jadi mungkin Ronggo Warsito menulis buku tersebut atas perintah Ingkang Sinuhun atau menulis buku tersebut untuk dipersembahkan kepada Beliau. Berikut adalah kata pengantar dalam buku tersebut : "Bahosi Kawungan : Sintento ingkang kerso maos serat puniko, menawi dereng tampi wedaran saking Murtito Mawaskito Tunggal, ing panyuwun kulo mugi kersoho nahan adrenging kerso kanti sumeleh ing penggalih. Sampun ngantos kawahos. Inggih namung bongso wirid...