RINGKASAN MAKALAH TENTANG DESA SAWO
1. TENTANG Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd
Makalah ini mendasarkan pada metodologi yang diperkenalkan oleh Dr. (HC) K.H. Ng. Adus Sunyoto, Mpd.
Dr. (HC) K.H. Ng. Agus Sunyoto, M.Pd., seorang sejarawan fenomenal sekaligus Ketua Lesbumi PBNU, dikenal memiliki pandangan kritis dan khas terhadap metode pelacakan sumber sejarah di Jawa dan Nusantara.
Menurut beliau, metode pelacakan sejarah di Nusantara tidak bisa disamakan begitu saja dengan metode positivisme murni ala Barat yang hanya mengakui arsip tertulis negara. Bagi Agus Sunyoto, sejarah Nusantara harus didekati secara "pribumi" (indigenos)—yaitu dengan menghargai tradisi tutur atau Folklor, toponimi (Toponimi adalah bidang ilmu linguistik yang mempelajari asal-usul, arti, dan sejarah penamaan suatu tempat atau wilayah geografis), peninggalan sosiologis, artifak dan arkeologis.
2. JEJAK SEJARAH :
2.1. MAKAM BERGAMBAR REMBULAN
Di makam Kyai Demak-an pada nisan Beliau ada gambar lingkaran penuh, orang Jawa menyebut gambar rembulan purnama.
Gambar bulan penuh atau rembulan purnama adalah perubahan dari lambang Matahari yang dimiliki Majapahit yang kemudian pada zaman Demak Bintoro diubah menjadi gambar Rembulan. Waktu itu adalah larangan keras dari kerajaan, tidak boleh menggambar bulan pada nisan sembarangan, hanya boleh pada orang-orang tertentu, misal kerabat diraja, ulama yang diakui kerajaan dan orang-orang khusus lainnya.
Artinya bahwa Kyai Demak-an bukan orang sembarangan. Diyakini beliau adalah utusan Demak yang kemudian menetap di desa Sawo ini dan meninggal serta di-’sarekan’ disini.
Melalui pisau analisis Agus Sunyoto, gambar rembulan purnama pada nisan Kyai Demak’an bukan sekadar hiasan, melainkan bukti autentik akulturasi Islam-Majapahit abad ke-15/16. Nama "Demak-an" membuktikan adanya hubungan geopolitik aktif antara Kesultanan Demak dan wilayah pedalaman Gresik lewat jalur Bengawan Solo.
2.2. Masjid beratap limas, tanah lapang dengan beringin kembar, batu gilang dan sumur kuno.
Bangunan Masjid di Sawo sebelum direnovasi memiliki ciri khas kuno yaitu beratap limas tunggal. Pada masjid keraton biasanya beratap limas susun tiga. Di depan masjid ada pelataran semacam miniature alun-alun dengan pohon beringin yang menurut cerita orang tua-tua pada awalnya ada dua disebut beringin kembar, kemudian ditengah ada dua atau tiga batu gilang yang lebar dan di sebelah utara masjid ada sumur kuno.
Jika semua petunjuk fisik ini digabungkan—Nisan Rembulan Purnama, Sebutan Kyai Demak, Atap Limas, Alun-alun Mini, Beringin Kembar, Batu Gilang, dan Sumur Kuno—maka secara historis Desa Sawo di masa peralihan Majapahit-Demak-Giri Kedaton bukan sekadar desa agraris terpencil. Kawasan kompleks masjid kuno ini dulunya adalah sebuah Pusat Kadipaten Kecil / semacam Pos Pertahanan Militer dan Dakwah Strategis yang dipimpin oleh perwira tinggi dari Demak demi mengamankan koridor transportasi air Bengawan Solo. Ingat bahwa desa Sawo ini termasuk desa yang dilintasi bengawan Solo.
3. HUBUNGAN DENGAN TOKOH DAN SEJARAH SEKITAR
3.1. Adakah Hubungan Dengan P. Sawo ?
Ini cukup menarik. Secara ilmu toponimi tidak ada nama suatu desa kuno yang sekedar nama saja. Pasti ada hubungan dengan tokoh, riwayat atau hal penting lainnya. Tentu hal ini memerlukan penelitian lanjutan.
Asal-Usul & Nasab: Pangeran Sawo atau Pangeran Sawu adalah cucu dari garis laki-laki Sunan Ampel. Beliau kemudian menikah dengan Nyai Ageng Sawo / Sawu, yang merupakan putri kandung dari Sunan Giri. Pernikahan ini merupakan pernikahan politik-dakwah untuk memperkuat konsolidasi antara keturunan Ampel dan Giri.
Kompleks masjid beratap limas, alun-alun mini, batu gilang, sumur kuno, serta nisan rembulan purnama bergelar Kyai Demak di Desa Sawo diduga memiliki hubungan linear yang sangat kuat dengan eksistensi Pangeran Sawo.
Desa yang kita ceritakan adalah situs arkeologi-sosiologis berharga tinggi. Tempat itu diduga merupakan bekas Pusat Komando Dakwah dan Militer terpadu di tepi Bengawan Solo yang dikelola oleh aliansi tiga kekuatan besar Nusantara abad ke-16: Trah Sunan Giri (Pangeran Sawo), dan Kesultanan Demak (Kyai Demakan), Keraton Mataram Islam hingga Surokarto dan Kadipaten Sedayu.
3.2. Hubungan dengan Kadipaten Sidayu
Fakta sejarah ini semakin menyatukan potongan teka-teki peta sosiologis Desa Sawo. Hubungan struktural dengan Kadipaten / Kawedanan Sedayu (Sidayu) menjelaskan mengapa Desa Sawo memiliki tata ruang yang sangat formal beralun-alun mini dan berberingin kembar.
Berdasarkan metodologi Dr. (HC) Agus Sunyoto, jika suatu desa pedalaman memiliki struktur "kadipaten mini", ia dipastikan merupakan bagian dari wewengkon (wilayah satelit/pertahanan) dari ibu kota kadipaten induknya—dalam hal ini, Kadipaten Sedayu.
Korelasinya dengan Hubungan Sejarah Desa Sawo
Masuknya Desa Sawo ke dalam administrasi Kadipaten Sedayu/Sidayu di masa lalu memberikan penjelasan akhir yang sangat rasional bagi dugaan Anda sebelumnya:
1. Jalur MIgrasi Bangsawan: Dugaan bahwa Mbah Kyai Bambang Leksono (Makam di belakang Masjid) berkaitan dengan Keraton Surakarta menjadi sangat valid. Karena pendiri kadipaten Sedayu hingga Kanjeng Sepuh sendiri adalah putra bangsawan Kartosuro / Surakarta, otomatis wilayah administrasi bawahannya (termasuk koridor Desa Sawo) menjadi "zona aman" dan tempat penampungan logistik, militer, maupun perlindungan bagi para keluarga dan utusan politik dari keraton Surakarta. Keraton Surokarto adalah kelanjutan dari Keraton Mataram Islam sedangkan Keraton Mataram Islam adalah kelanjutan dari Keraton Pajang yang adalah kelanjutan Keraton Demak Bintoro. Sedangkan istri beliau yaitu Mbah Nyai Buyut Puteh adalah disinyalir masih keturunan Sunan Perapen putra Kanjeng sunan Giri.
2. Standardisasi Tata Ruang Kasepuhan: Keberadaan alun-alun mini, beringin kembar, dan batu gilang di Desa Sawo merupakan miniatur atau copy-paste dari Alun-alun Besar Kadipaten Sedayu. Sebagai pos kawedanan/satelit, Desa Sawo difungsikan sebagai replika pusat kekuasaan administrasi Kanjeng Sepuh untuk mengontrol wilayah punggung Bengawan Solo.
Hubungan sejarah ini membuktikan bahwa Desa Sawo bukan sekadar penonton sejarah, melainkan organ vital yang menghubungkan denyut nadi perlawanan spiritual dan politik dari zaman Wali Songo (poros Giri) hingga zaman perlawanan kolonial (poros Kanjeng Sepuh Sedayu). [4]
4. HUBUNGAN DENGAN KERAJAAN DEMAK.
4.1. EMPU SUPO / EMPU SUPO MADRANGKI
Empu Supo hidup pada era transisi akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16 Masehi. Beliau berasal dari dinasti empu terpandang di Kerajaan Majapahit. Beliau adalah putra dari Empu Tumenggung Supodriyo. Ayah beliau (Empu Supodriyo) menikah dengan Dewi Rasawulan, yang merupakan adik kandung dari Sunan Kalijaga. Artinya, secara silsilah keluarga, Empu Supo adalah keponakan langsung dari Sunan Kalijaga.
Pada masa pembentukan Kadipaten sedayu, maka penguasa Sedayu yang pertama pada zaman Demak Bintoro adalah Empu Supo. Setelah meninggal beliau di-sarekan di gunung Surowiti Panceng.
Korelasinya dengan Hubungan "Kyai Demak" di Desa Sawo
Jika Sedayu dipimpin oleh Empu Supo (Pangeran) atas mandat Kesultanan Demak, maka keberadaan makam Kyai Demak/Demakan beserta tata ruang formal (alun-alun mini, beringin kembar, batu gilang) di Desa menjadi sangat sinkron!.
Desa Sawo di masa itu bertindak sebagai "Pos Satelit Komando" atau garda dalam yang menjaga perbatasan jalur sungai Bengawan Solo, yang garis komando militernya tersambung langsung ke pusat pertahanan Empu Supo di Sedayu. [4]
Tentang Mbah Cikal Bakal
Makam Mbah Cikal Bakal di sebelah barat adalah akar bumi dari sejarah Desa Sawo, sementara kompleks masjid di sebelah timurnya adalah pucuk peradaban Islam yang mekar kemudian. Para wali terdahulu tidak menghancurkan ingatan terhadap Mbah Cikal Bakal.
Hubungan Dengan Adat Sedekah Bumi
Desa Sawo, Dukun, Gresik memiliki struktur sejarah Nusantara yang sangat paripurna. Kelestarian tradisi tahunan Anda hari ini membuktikan adanya perpaduan harmoni tiga pilar peradaban:
1. Pilar Babat Tanah ([Mbah Cikal Bakal- Sisi Barat)
2. Pilar Penataan Sosial, Sosial keagamaan, Infrastruktur Pemerintahan dan fungsi pengayoman masyarakat : (Kyai Bambang Leksono dengan Nyai Buyut Puteh, Kyai Demak’an, Mbah Singosari, Mbah Wali Sambang dan Mbah Manteb Mbendul alias Mbah Raden Ngabdullah ).
Isi dari penyelenggaraan sedekah bumi :
1. Kirim doa kepada leluhur.
2. Permohonan supaya warga desa diberi keselamatan dan kemakmuran lahir bathin.
2. Hiburan berupa langen tayub. Tayub berasal dari budaya Keraton Surakarta. Di desa sawo ini punya ciri khas yaitu diawali dengan gending eling-eling yang artinya ajakan untuk senatiasa ingat kepada Tuhan. Tayub berasal dari kata : ditoto ben guyub. Punya filosofi kerukunan untuk guyub rukun dengan sesame.
5. REFLEKSI KE MASA KINI DAN MASA DEPAN
Saya teringat sejarah pidato Bung Karo : JASMERAH yang merupakan kependekan dari jangan sekali-kali tinggalkan sejarah.
Mempelajari sejarah adalah ibarat bercermin supaya generasi kini dan masa depan tidak tercerabut dari akar budayanya. Ketika kita bicara kehebatan para nenek moyang kita janganlah kita terpaku hanya pada masalah mistis dan kesaktian mereka saja. Namun mari kita pandang dari sudut pengembangan budaya, ilmu dan teknologi.
Teknologi para leluhur :
1. Adanya ilmu perhitungan pranotomongso atau kalamongso. Satu tahun dibagi dalam 12 musim, mulai kapisan, kapindo, katigo atau ketigo hingga karolas, lengkap dengan prediksi cuaca dan iklimnya.
2. Adanya teknologi pembuatan keris yang sangat canggih, yaitu peleburan 7 hingga 9 logam menjadi satu. Bahkan ada unsur batu meteroit di dalamnya.
3. Teknologi metalurgi pada pembuatan gong sebagai alat musik.
Refleksi masa depan :
Pengembangan ilmu pengetahuan berdasar agama, budaya dan penemuan baru. Paculah anak-anak muda untuk terus mengembangkan diri sesuai bakat dan kemampuan. Ada yang jadi ulama ahli ilmu agama, ada yang belajar ilmu kedokteran, ilmu farmasi, ilmu pemerintahan, ilmu teknik bangunan, kimia dll. Sehungga anak-anak kita bisa meningkatkan diri dari sisi finansial ekonomi dan mampu menyumbangkan karya nyata dalam kehidupan.

EmoticonEmoticon